December 04, 2009
July 30, 2009
Maera Putri Pertiwi
Maera Putri Pertiwi anak pertamaku, lahir 2 Juni 2009. Saat sebelum kelahirannya aku sempat terkena sindrom Babyblues, sebuah keadaan psikolgis yang sangat parah. Hampir setiap hari aku selalu mendengar atau melihat di tv, majalah dan koran berita mengenai bayi-bayi yang dilahirkan dalam sebuah keadaan yang tidak sempurna. Malah secara diam-diam aku mencoba menyiapkan diriku secara psikologis untuk menerima keadaannya apapun yang nanti akan terjadi.
Entah kenapa hal ini muncul, mungkin karena aku tinggal dan tidur bersama kucingku si Titi. Untungnya dokter tempat kita periksa rutin Dr. Moch. Baharuddin, Dirut RS Budi Kemulyaan, selalu dapat menenangkan kita. Kekhawatiran ini tidak pernah sekalipun aku kemukakan pada Ruri, takut malah akan semakin memberatkannya dalam menghadapi masa-masa kehamilannya.
Dalam masa-masa kehamilan istriku, aku terlibat dalam kesibukan yang luar biasa. Membantu orang-orang terdekat untuk dapat memenangkan pemilihan legislatif serta menggerakkan mesin partai untuk bekerja. Sebuah pekerjaan yang hampir tidak ada tolak ukur keberhasilannya. Satu-satunya yang bisa dijadikan acuan adalah: semakin kita keras bekerja maka akan semakin besar peluang untuk dapat keluar sebagai pemenang, apalagi sumber daya finansial kita sangat terbatas.
Hampir setiap hari aku terpaksa pulang larut malam dan meninggalkan istriku sendirian di rumah. Aku sangat memahami kesedihannya saat itu, cuma dari pengalaman hidupku aku telah mempercayai bahwa seorang laki-laki dalam dunia yang patriarkis ini haruslah mengutamakan pekerjaannya. Rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta saja tidak pernah akan bisa bertahan jika berhadapan dengan tuntutan riil kehidupan. Aku harus minta maaf kepada istri dan putriku atas semua keputusan itu.
Untunglah, tepat pukul 11.15 putri kami lahir, aku menemani Ruri dalam keseluruhan proses kelahiran tersebut. Bersyukur dan bahagia sekali melihat Ruri dan Putri kami berada dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang satu apapun. Rasanya itulah kebahagian yang tertinggi yang aku alami memecahkan rekor ketika aku berhasil lulus ujian sarjana di Fisip UI.
Maera Putri Pertiwi
Dalam memberikan nama sebenarnya kita berdua tidak cukup siap. 2 Kali USG gagal untuk mengungkapkan jenis kelamin bayi kami. Dari berbagai tanda-tanda selama masa kehamilan, kami berdua sangat yakin bayi kami akan berjenis kelamin laki-laki. Kami telah sepakat untuk memberikannya nama: Maera (ISTANA) Rarna (Menyenangkan) dan aku menyiapkan tambahan nama Nusantara dibelakangnya.
Namun karena ternyata bayi kita perempuan, beberapa hari kita mencari nama yang cocok. Ada sekitar ratusan nama yang aku sortir. Dari beberapa nama itu kami memilih 4 nama, yaitu:
1). Ariane Pratiwi Armani
2). Raissa Ramaniya Pratiwi
3). Anjaly Ramaniya Pratiwi
4). Maera Putri Pertiwi
Akhirnya, setelah mendapat masukan dari beberapa teman dekat dan berdasarkan hitung-hitungan Jawa yang aku tidak begitu mengerti kami memutuskan memilih nama anak kami Maera Putri Pertiwi= Maera (Kebahagian=Irlandia) yang kurang lebih artinya: "Putri Kebahagian Ibu Pertiwi".
Aku berharap nantinya putriku dapat tumbuh menjadi sebuah pribadi yang kuat, peduli pada nasib orang-orang yang tertindas dan membawa kebahagian bagi banyak orang. Bukan tipe kepribadian materialis invidualistis sebagaimana kebanyakan tipe-tipe manusia di zaman kapitalistik. Jika memungkinkan nanti, aku sendiri yang akan mengajarkan berbagai ilmu sosial, sejarah, filsafat, dan politik ekonomi. Aku akan mengajaknya memahami masyarakatnya yang selalu ditindas baik oleh bangsa lain maupun oleh penguasa di negerinya sendiri. Semoga aku masih diberikan umur yang cukup untuk melihat putri tercintaku tumbuh berkembang.
May 05, 2009
Saat penentuan caleg dari PD Jakarta Pusat, kondisi politik memang sedang tidak menguntungkan. Minat seseorang untuk menjadi caleg PD di Jakpus sangat rendah, terutama dari kalangan perempuan. Prediksi paling optimistis dan realistis sewaktu itu adalah 2 kursi di DPRD DKI Jakarta atau sama dengan perolehan pada tahun 2004 yang lalu. Apalagi jika kita mengambil tolak ukur pilkada 2007 (sebagai sebuah tolah ukur yang paling realistis) di mana Adang - Dani Anwar yang diusul oleh PKS berhasil meraih 47% suara. Aku pikir jatah 1 kursi waktu itu, sudah jelas untuk Ketua DPC yang telah berkontribusi banyak dan membangun struktur partai sampai ketingkat anak ranting (RW). Tinggal satu kursi yang diperebutkan oleh semua caleg. Apalagi sebelum keputusan suara terbanyak MK, caleg yang dipilih adalah yang berhasil memperoleh 30% BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) atau setara dengan 12.500 suara. Rendahnya motivasi para caleg ini telah mengakibatnya susahnya partai untuk dapat mengajak para caleg untuk berkontribusi dalam menjalankan program-program kampanye partai agar dapat menjalankan mesin partai.
Kampanye Caleg
Kita yang dari awal telah menfokuskan untuk menggarap basis non struktur dalam rangka pembesaran partai harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Tantangan paling berat adalah pragmatisme warga masyarakat yang telah sangat apatis terhadap kondisi politik. Menghadapi apatisme tersebut, pendidikan politik merupakan satu-satu cara yang dapat dipergunakan. Tema-tema pendidikan politik yang kita usung adalah: Pertama,Participatory Budgeting (Anggaran Partisipatif) - yakni sebuah model penganggaran yang berasal dari, oleh dan untuk warga. Model ini diambil dari success story penerapannya di negara-negara Amerika Latin terutama Porto Alegre sebuah negara bagian di Brasil. Apalagi secara nasional, pelaksanaan anggaran berbasis warga ini telah diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru menerapkan program ini untuk Program Dana Penguatan Kecamatan dan Kelurahan melalui mekanisme Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Tidak optimalnya pelaksanaan program ini mengakibatkan tema ini cepat direspon oleh warga masyarakat. Kedua, Kesehatan Gratis untuk Warga miskin, di tingkat Provinsi DKI Jakarta pemerintah telah melaksanakan program Jaringan Pengamanan Kesehatan untuk Keluarga Miskin (JPK-Gakin) serta pemberian Surat Keterangan Untuk Keluarga Tidak Mampu (SKTM) bagi warga yang tidak dapat digolongkan miskin, kepada mereka dibebankan kontribusi sebesar kesanggupannya. Program ini dilaksanakan dengan melakukan pendampingan bagi warga yang tidak mampu untuk berobat ke RS-RS yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Program lain yang dijalankan adalah Pendampingan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para pedagang yang membutuhkan bantuan modal usaha. Program lain adalah Kontrak Politik antara Caleg dengan warga berkaitan dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh Caleg dalam memperjuangkan aspirasi warga.
Berbagai program tersebut menjadi tema kampanye yang menarik minat warga masyarakat. Sayangnya, dalam waktu yang sedikit program ini tidak memadai untuk merekrut banyak pemilih. KUR misalnya telah membantu 55 orang Pedagang, Pendampingan Kesehatan telah membantu 200 orang untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan, Kampanye Dana Penguatan telah mengakibatkan adanya lurah yang dimutasikan karena tidak melaksanakan program tersebut secara nyata.
Aku berpikir bahwa dalam konteks kampanye politik yang paling penting adalah adanya interaksi secara langsung antara caleg dengan konstituennya. Interaksi saja memang tidak cukup, interaksi yang terjadi harus menciptakan trust (kepercayaan) antara caleg dan konstituen. Memang dalam proses tersebut kita tidak menafikkan perlunya untuk mengeluarkan cost politic tertentu.
Entahlah apakah program kampanye tersebut efektif atau tidak? yang jelas di Jakarta Pusat pada masa "booming" Partai Demokrat kita berhasil mendapatkan 4 dari 10 kursi anggota DPRD untuk Jakarta Pusat, dengan 3 diantaranya merupakan kader internal DPC PD Jakarta pusat. (M. Firmansyah, Edward H. Napitupulu, dan Taufiqurrahman). Suatu perolehan kursi yang lebih tinggi dari target awal kita.
Konsolidasi Struktur
Konsolidasi struktur Partai memiliki permasalahan tersendiri, berbeda dengan saat menjadi tim sukses, di mana kita diharuskan berpihak kepada salah satu caleg tertentu. Saat terlibat dalam mesin partai seseorang diminta untuk bertindak netral jika tidak akan menimbulkan resistensi dari struktur yang telah terpecah-pecah pada kepentingan masing-masing caleg. Upaya mengkondisikan struktur kita mulai pertengahan Februari dengan menghidupkan Badan Pemenangan Pemilu (BAPPILU) yang selama ini vakum.
Upaya pengkondisian struktur di luar dugaan ternyata berjalan dengan baik, semua struktur dari tingkat anak cabang, ranting dan anak ranting sangat kooperatif dalam menjalankan kerja-kerja kepartaian untuk pemenangan Pemilu Legislatif, tidak jarang kita mesti memanggil mereka menghadap tengah malam atau subuh-subuh untuk menyempurnakan segala persiapan. Entah spirit seperti apa yang tiba-tiba melingkupi mereka, mengingat selama ini upaya pengkaderan secara ideologis memang masih kurang dilakukan. Aku menduga mungkin kecintaan mereka pada figur SBY.
Kecuali 'kegagalan' rapat umum tanggal 20 Maret 2009 yang disebabkan oleh ulah segelintir oknum di DPD PD Jakarta. Seluruh aktivitas pilleg yang dilakukan oleh struktur seperti: Penyiapan saksi di 1.880 TPS di Jakarta Pusat, pembekalan saksi, Pengawalan Perhitungan suara di tingkat kecamatan berjalan dengan baik. Perhitungan suara yang dapat kita selesaikan pada hari H+3 memiliki akurasi yang sangat tinggi dan hampir tidak ada perbedaan dengan hasil rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPUD Jakarta Pusat. Di samping itu, dari pengamatanku di lapangan, kader-kader PD dapat berbaur dengan baik dengan kader-kader partai lainnya sehingga dapat meredam berbagai resistensi yang terjadi. Inilah merupakan modal yang sangat baik dalam persiapan pilpres pada 8 Juli mendatang.
Kurang siapnya KPU dalam pelaksanaan Pemilu 2009
Selama proses ini, aku mengamati bahwa KPU memang belum siap dalam melaksanakan pemilu 2009 ini. Mungkin wajar karena dana yang tersedia memang sangat minim, sehingga sosialisasi cara memilih tidak dapat diselenggarakan secara maksimal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah, misalnya di Kelurahan Gunung Sahari Selatan, petugas PPS tidak mengerti bahwa pemilih yang mencontreng partai dan caleg maka suara pemilih tsb akan dihitung untuk caleg yang bersangkutan. Petugas tersebut bersikeras bahwa suara pemilih tersebut akan menambah suara partai dan caleg, meskipun saksi kita telah mengingatkan bahwa tidak mungkin satu pemilih memiliki 2 hak suara. Keadaan inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara jumlah pemilih sah dan suara yang masuk ke partai dan caleg seluruh Partai. Dalam proses perhitungan yang dilakukan oleh PPK juga ditemui berbagai kesalahan yang sifatnya 'human error'. Kasus yang sempat menuai protes dari Parpol lagi2 terjadi di Kemayoran. Kesalahan yang terjadi adalah adanya kesalahan PPK dalam memindahkan jumlah suara dari lembar sebelumnya sehingga menimbulkan penggelembungan suara untuk seluruh Partai, untunglah semua pihak kemudian dapat menerima. Aku membayangkan bahwa keadaan seperti ini pulalah yang menyebabkan maraknya protes di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Di samping itu, saat rekapitulasi suara aku sangat menyayangkan dilakukan secara terbuka penuh, semua orang diperkenankan masuk kedalam ruangan: Caleg, Tim Sukses, wartawan, LSM. Entahlah karena ingin mengesankan bahwa mereka demokratis, kondisi ini melahirkan hujan protes yang malah dilakukan tanpa argumentasi dan data yang jelas. Seharusnya, KPU hanya melibatkan saksi-saksi Partai Politik saja. Ke depan semoga KPU lebih dapat melakukan persiapan secara lebih detail. Jika tidak berbagai kekisruhan akan kembali terjadi.
December 03, 2005
Seandainya kita diberikan kebebasan sepenuhnya
Mampukan kebebasan itu melepaskan kita dari takdir
sebagai aktor lelucon semesta?
November 09, 2005
October 13, 2005
Aku sering merasakan semua benda disekelilingku hidup, bernafas, dan berbicara. Saat merasakan hal itu aku berada dalam keadaan antara sangat senang sekali dan kebingungan harus menempatkan diri. Kadang aku berada dalam suasana yang sangat serius, terlibat dalam berbagai hal detail dari dunia nyata.
Anehnya, dalam kedua situasi ini aku merasa senang. Kebahagian yang pertama disebabkan karena aku merasakan benar-benar hidup sebagai sebuah pribadi tersendiri, sementara kebahagian kedua disebabkan aku berhasil untuk melupakan tujuan hidup itu sendiri.
October 04, 2005
September 28, 2005
Dunia Berantakan...
Padahal menurut beberapa pakar virus tersebut sangat cepat melakukan mutasi genetik sehingga sekarang telah mampu menembus barrier antar spesies. Misalnya: Kucing yang memakan ayam yang terjangkiti H5N1 akan dapat menjadi carrier bagi penyebaran virus di samping itu penuluran juga dapat dilakukan melalui udara. Seorang Peneliti dari Guan China yang pertama kali melakukan penelitian terhadap Virus ini sangat mengkhawatirkan terjadinya epidemic Global bahkan ia sangat yakin akan terjadinya hal ini.
Terhadap hal ini, aku sedikit kesal dengan pandangan para pedagang ayam melalui asosiasinya yang menolak pemerintah memasukan serangan wabah ini menjadi KLB karena mengkhawatirkannya dampaknya terhadap usaha mereka. Mungkin di kepala mereka hanya ada perhitungan untung rugi tanpa peduli keselamatan orang lain bahkan mungkin diri mereka sendiri dan keluarganya. Aku telah mulai Boikot makan ayam dan produk turunannya dan mulai kesulitan mencari makanan penggantinya :-(
Kejadian lain yang membuatku cemas adalah kenaikan BBM yang sangat Drastis, menurut beberapa sumber sebesar 75%. Persoalannya adalah karena subsidi untuk BBM tahun ini telah mendekati batas yang ditetapkan sehingga untuk beberapa bulan ke depan sudah tidak ada lagi subsidi bagi pembelian BBM. Kenapa kok anggaran dibuat dengan semudah itu? apa gak ada mekanisme lain sehingga rakyat tidak makin susah? apalagi program-program kompensasi yang sangat populis kelihatannya akan sulit mencapai sasaran. Misalnya subsidi pendidikan, jika diperhatikan dalam prakteknya tidak terlaksana. Penyebabnya adalah sistem birokrasi kita terlalu lamban untuk menutupi celah-celak praktek mencari keuntungan dari pihak sekolah dan guru-guru rakus. Misalnya setelah semua biaya BOS dan BOP (Jakarta) diberikan, ternyata masih ada peluang untuk melakukan pungutan dalam bentuk kegiatan les dan ekstrakurikuler.
Kemudian kebijakan untuk memberikan uang 100 ribu sebulan juga hampir pasti akan gagal karena pendataan untuk keluarga miskin belum selesai dan mengadung sangat banyak persoalan dalam penyalurannya. JPK Gakin dan PPMK (Jakarta) tidak berjalan karena persoalan pendataan keluarga miskin yang lemah sehingga akan sangat rawan terjadinya manipulasi data oleh pejabat yang berwenang dalam proses penyalurannya. Jadi hampir pasti kesejahteraan rakyat kecil akan kembali tergerus dengan kebijakan ini.
T
entang kenaikan BBM sebenarnya aku setuju dengan adanya mekanisme penyesuaian harga. Faisal Basri dalam sebuah diskusi juga sangat menganjurkan kenaikan harga BBM, menurutnya akan ada mekanisme adaptasi dari masyarakat. Akan tetapi, menurutku proses adaptasi ini baru dapat dilaksanakan dengan perlahan. Oleh karenanya, kenaikan BBM pun harusnya juga dilaksanakan secara bertahap serta dilakukan dengan penjadwalan yang jelas, misalnya kenaikan setiap 3 bulanan atau setiap bulan seperti pada masa pemerintahan Megawati. Dengan demikian, dunia usaha dan rakyat kecil dapat bernapas dan beradaptasi.Kejadian menurunnya nilai tukar rupiah juga mengkhawatirkan, cobalah cek di situs BI kenapa kok laporan cadangan Devisa kita sejak bulan Juli tidak lagi diumumkan setiap bulan kepada publik seperti biasanya???
Hal ini membuktikan bahwa penyelenggaraan negara kita berantakan dan itu semua menjadikan dunia kita juga berantakan...
September 19, 2005
Refleksi dan mimpi
July 30, 2005
Ada yang tersembunyi di alam misteri hati kita
Yang tak pernah mampu kumengerti
Sekelopak mawar pada bola matamu
Tentu saja keindahannya kukagumi dengan caraku sendiri
Kusembunyikan dalam gejolak hatiku
Meski kadang menyusahkan dan kehilangan arti
Aku mengejamu,
Dalam absurd penanda metropolitan
Membentuk kau dalam keresahanmu
Dan mimpi-mimpimu.
"Mungkinkah tuhan menyerahkan surga bagi kesabaran
dan kedamaian promoteus menjalani siksa? "
Sebuah angin segar berhembus kepada rakyat yang tersandar letih seharian memikul begitu banyak beban hidup. Pemerintah telah mencanangkan program pendidikan gratis begitu yang terdengar? berarti tidak akan ada lagi biaya pendaftaran siswa baru (PSB), tidak ada lagi uang daftar ulang dan tidak ada lagi iuran bulanan yang terasa sangat memberatkan keluarga tidak mampu. Berarti tidak ada lagi yang mesti mereka pikirkan untuk pendidikan anaknya, paling tidak selama ia menjalani pendidikan dasar sembilan tahun semua biaya pendidikan telah ditanggung oleh negara.
Katanya, ada dana yang sangat besar sebesar 6,272 Triliun rupiah yang akan diberikan kepada seluruh SD dan SMP di Indonesia. Sungguh sebuah program yang sangat berani dan merakyat sekali, sangat menyentuh. Saking bersemangatnya mengajukan usulan ini, pemerintah dan panitia anggaran DPR RI ternyata lupa berhitung!
Jika di setiap SD biaya operasional per siswa adalah Rp.235.000,- dan untuk SMP sebesar Rp. 324.000,-maka marilah melakukan perkalian dan penjumlahan sederhana seperti yang diajarkan kepada kita di SD dulu. Menurut data dari Departemen Pendidikan Nasional, Murid SD pada tahun ajaran 2002/2003 berjumlah 25,9 juta dan siswa SMP berjumlah 7,4 juta, maka jika dikalkulasikan hasil penjumlahannya adalah sebagai berikut: (25.900.000 X 235.000) + (7.400.000 X 324 .000) = 6.086.500.000.000 + 2.397.600.000.000 = 8.484.100.000.000. Ternyata ada kekurangan 2,212 trilun.
Nah, inipun jika perhitungan biaya operasional pendidikan yang akan ditutupi melalui block grant mencakupi semua biaya untuk menyelenggarakan pendidikan. Akan tetapi, ternyata pemerintah kembali tidak memperhitungkan biaya real untuk menyelenggarakan sebuah pendidikan. Kesalahan ini mungkin bukan karena kealphaan. Akan tetapi, karena orang-orang pemerintahan kita belum dapat memahami konsep-konsep dalam akuntansi biaya yang lazim diajarkan di tingkat Universitas. Buktinya, biaya-biaya seperti Listrik, telepon, alat tulis, telepon, dan biaya untuk kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler tidak diperhitungkan. Sungguh bukan sebuah kealphaan tapi sebuah kekeliruan.
Berarti akan ada defisit anggaran bagi sekolah, berarti akan adanya usaha untuk mencari tambahan, solusi konvensional atau tidak kreatif yang biasa dipilih adalah menarik pungutan dari orang tua siswa dengan melibatkan Komite Sekolah yang selama ini begitu akur dengan pihak sekolah dalam menyerap dana dari orang tua siswa. Apakah janji pendidikan gratis ini kemudian hanyalah menjadi ilusi saja?
Tapi sebenarnya tidak. Persoalan ini seharusnya tidak usah dikhawatirkan, kebijakan pendidikan gratis masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan sebuah syarat: Pemerintah dalam semua tingkatannya mesti serius, peka dan flexible dalam membuat kebijakan yang berpihak pada orang kecil.
Tapi mungkin juga keinginan untuk memiliki birokrasi pemerintahan yang seperti inilah yang merupakan ilusi. Bagaimana tidak. Sampai dimulainya tahun ajaran baru 2005/2006 dimana program pendidikan gratis seharusnya sudah dimulai, Dana Block grant ini belum diturunkan. Alasannya JUKNIS mengenai Standar Pembiayaan Pendidikan baru dapat diselesaikan pada akhir Agustus 2005 ini. Akibatnya, pemerintah mengakui masih kesulitan untuk menghentikan pungutan yang dilakukan sekolah. Simplifikasi permasalahan oleh Mendiknas adalah ' jika pungutan dihentikan sementara anggaran untuk biaya operasional sekolah baru diturunkan akhir Agustus maka sekolah tidak bisa beroperasi, artinya akan banyak sekolah yang tutup '.
Rencana pemerintah untuk mengratiskan biaya pendidikan mulai tahun ajaran 2005/2006 ini praktis telah gagal. Kita telah mendengar banyak berita menyedihkan berkaitan dengan upaya orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, ada seorang ibu dari Petamburan yang menjadi joki 3 in 1 lalu tertangkap, ada banyak keluarga yang terbelit ' uang panas ' dengan bunga 30% per bulan. Mungkin masih banyak lagi cerita lain yang tidak terungkapkan Sungguh kegagalan yang sangat menyesakkan sebenarnya. Entah agenda ' politik minyak ' seperti apa yang akan diusung (?), bagi saya sendiri ini sebuah kebodohan dan ketidakberpihakan pada rakyat kecil. pemerintah terlihat tidak berusaha mencarikan solusi cepat untuk mengatasi masalah ini? Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah menutupi biaya operasional sekolah cuma untuk 2 bulan. Jika dihitung besarnya hanya sekitar 707 miliar rupiah saja.
Menurut saya solusinya tidak terlalu sulit. Misalnya, anggaran pendidikan dalam APBD disetiap daerah diprioritaskan untuk menalangi program yang secara prinsip telah disetujui DPR ini. Potensi dana ini cukup besar dengan telah adanya kebijakan untuk menetapkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD tiap daerah, di DKI Jakarta saja ada anggaran untuk program prioritas pendidikan sebesar Rp. 1.059.134.545.786,- dengan program prioritas yang nyaris sama yaitu pengembangan pendidikan dasar.
Ada beberapa pertimbangan dari hal ini. Pertama, untuk menghindari tumpang tindih program dan memungkinkan pemerintah daerah memformulasikan program lain yang bermanfaat dalam menutupi kekurangan program pendidikan gratis dari pemerintah pusat. Kedua, pengawasan dan block grant tahap pertama ini akan lebih efektif jika dilakukan oleh PEMDA. dan Ketiga, untuk menghindari inefisiensi dalam pengelolaan anggaran daerah (sampai dengan pertengahan tahun 2005 realisasi APBD DKI Jakarta baru 3%).
Tapi entahlah, pendidikan gratis dari pendanaan, menurut saya, sangat mungkin ada, sama sekali bukan ilusi. Malah sebuah birokrasi pemerintahan yang punya keseriusan, kepekaan, fleksiblitas, sedikit kecerdasan dan keberpihakan pada rakyat kecil inilah yang justru merupakan sebuah ilusi.
