December 04, 2009

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

luuuuuuuuuuuuuvvvvvv

RURI + RARA

July 30, 2009

Maera Putri Pertiwi

Lahirnya si permata hati

Maera Putri Pertiwi anak pertamaku, lahir 2 Juni 2009. Saat sebelum kelahirannya aku sempat terkena sindrom Babyblues, sebuah keadaan psikolgis yang sangat parah. Hampir setiap hari aku selalu mendengar atau melihat di tv, majalah dan koran berita mengenai bayi-bayi yang dilahirkan dalam sebuah keadaan yang tidak sempurna. Malah secara diam-diam aku mencoba menyiapkan diriku secara psikologis untuk menerima keadaannya apapun yang nanti akan terjadi.

Entah kenapa hal ini muncul, mungkin karena aku tinggal dan tidur bersama kucingku si Titi. Untungnya dokter tempat kita periksa rutin Dr. Moch. Baharuddin, Dirut RS Budi Kemulyaan, selalu dapat menenangkan kita. Kekhawatiran ini tidak pernah sekalipun aku kemukakan pada Ruri, takut malah akan semakin memberatkannya dalam menghadapi masa-masa kehamilannya.

Dalam masa-masa kehamilan istriku, aku terlibat dalam kesibukan yang luar biasa. Membantu orang-orang terdekat untuk dapat memenangkan pemilihan legislatif serta menggerakkan mesin partai untuk bekerja. Sebuah pekerjaan yang hampir tidak ada tolak ukur keberhasilannya. Satu-satunya yang bisa dijadikan acuan adalah: semakin kita keras bekerja maka akan semakin besar peluang untuk dapat keluar sebagai pemenang, apalagi sumber daya finansial kita sangat terbatas.

Hampir setiap hari aku terpaksa pulang larut malam dan meninggalkan istriku sendirian di rumah. Aku sangat memahami kesedihannya saat itu, cuma dari pengalaman hidupku aku telah mempercayai bahwa seorang laki-laki dalam dunia yang patriarkis ini haruslah mengutamakan pekerjaannya. Rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta saja tidak pernah akan bisa bertahan jika berhadapan dengan tuntutan riil kehidupan. Aku harus minta maaf kepada istri dan putriku atas semua keputusan itu.

Segera setelah urusan Pemilu legislatif selesai, kami memutuskan untuk pindah ke Depok, berada dekat dengan kediaman orang tua istriku sehingga Ruri bisa lebih tenang menjalani masa-masa hamil tuanya.

Sampai pada tanggal 2 Juni 2009, pada pukul 06.00 WIB pagi, Ruri membangunkan dan mengatakan bahwa ada darah yang keluar. Aku melihat darah berceceran di lantai dan sempat panik serta menghubungi orang-orang terdekat. Saat di Rumah Sakit, berdasarkan pemeriksaan Dokter, air ketuban ruri indeksnya ternyata kurang. Ada dua pilihan ceasar atau diinduksi. Setelah konsultasi dengan ibu-nya Ruri maka kita memutuskan untuk dilakukan Induksi. Proses induksi memang menyakitkan. Tidak tega melihat ruri merontak-rontak kesakitan seperti itu. Dari Jam 1 Siang sampai jam 11 malam, Ruri menghadapi sebuah kesakitan yang sangat luar biasa. Aku minta dia bertahan jika pada jam 12 malam masih belum lahir maka kita akan ambil tindakan ceasar. Saat itu, aku sempat berdoa pada tuhan bahkan berjanji untuk melaksanakan sholat 5 waktu jika dapat melalui keadaan itu dengan selamat dan baik-baik saja.

Untunglah, tepat pukul 11.15 putri kami lahir, aku menemani Ruri dalam keseluruhan proses kelahiran tersebut. Bersyukur dan bahagia sekali melihat Ruri dan Putri kami berada dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang satu apapun. Rasanya itulah kebahagian yang tertinggi yang aku alami memecahkan rekor ketika aku berhasil lulus ujian sarjana di Fisip UI.


Maera Putri Pertiwi


Dalam memberikan nama sebenarnya kita berdua tidak cukup siap. 2 Kali USG gagal untuk mengungkapkan jenis kelamin bayi kami. Dari berbagai tanda-tanda selama masa kehamilan, kami berdua sangat yakin bayi kami akan berjenis kelamin laki-laki. Kami telah sepakat untuk memberikannya nama: Maera (ISTANA) Rarna (Menyenangkan) dan aku menyiapkan tambahan nama Nusantara dibelakangnya.

Namun karena ternyata bayi kita perempuan, beberapa hari kita mencari nama yang cocok. Ada sekitar ratusan nama yang aku sortir. Dari beberapa nama itu kami memilih 4 nama, yaitu:

1). Ariane Pratiwi Armani
2). Raissa Ramaniya Pratiwi
3). Anjaly Ramaniya Pratiwi
4). Maera Putri Pertiwi

Akhirnya, setelah mendapat masukan dari beberapa teman dekat dan berdasarkan hitung-hitungan Jawa yang aku tidak begitu mengerti kami memutuskan memilih nama anak kami Maera Putri Pertiwi= Maera (Kebahagian=Irlandia) yang kurang lebih artinya: "Putri Kebahagian Ibu Pertiwi".

Aku berharap nantinya putriku dapat tumbuh menjadi sebuah pribadi yang kuat, peduli pada nasib orang-orang yang tertindas dan membawa kebahagian bagi banyak orang. Bukan tipe kepribadian materialis invidualistis sebagaimana kebanyakan tipe-tipe manusia di zaman kapitalistik. Jika memungkinkan nanti, aku sendiri yang akan mengajarkan berbagai ilmu sosial, sejarah, filsafat, dan politik ekonomi. Aku akan mengajaknya memahami masyarakatnya yang selalu ditindas baik oleh bangsa lain maupun oleh penguasa di negerinya sendiri. Semoga aku masih diberikan umur yang cukup untuk melihat putri tercintaku tumbuh berkembang.




May 05, 2009

Pesta Demokrasi 'rakyat' 2009

Pesta demokrasi rakyat baru saja selesai, inilah kali pertama aku mengikuti proses tersebut dari A-Z. Dari penentuan nama caleg yang penuh ketegangan dan tarik-tarikan kepentingan, penetapan visi misi, penentuan strategi & taktik kampanye, konsolidasi internal, membuka kontak-kontak non struktur di beberapa wilayah, pertemuan terbatas, merancang program maintan basis-basis pemilih, rapat umum, penentuan saksi-saksi tps, perhitungan suara sampai kepada penetapan calon anggota legislatif terpilih melalui rapat pleno KPUD DKI Jakarta. Sungguh merupakan suatu proses yang sangat melelahkan dengan berbagai dinamika dan permasalahannya sendiri. Sungguhpun proses ini masih aku yakini sebagai ranah dari politik elitis, aku cukup senang karena sangat banyak pelajaran yang dapat diambil dari keseluruhan proses tersebut.

Saat penentuan caleg dari PD Jakarta Pusat, kondisi politik memang sedang tidak menguntungkan. Minat seseorang untuk menjadi caleg PD di Jakpus sangat rendah, terutama dari kalangan perempuan. Prediksi paling optimistis dan realistis sewaktu itu adalah 2 kursi di DPRD DKI Jakarta atau sama dengan perolehan pada tahun 2004 yang lalu. Apalagi jika kita mengambil tolak ukur pilkada 2007 (sebagai sebuah tolah ukur yang paling realistis) di mana Adang - Dani Anwar yang diusul oleh PKS berhasil meraih 47% suara. Aku pikir jatah 1 kursi waktu itu, sudah jelas untuk Ketua DPC yang telah berkontribusi banyak dan membangun struktur partai sampai ketingkat anak ranting (RW). Tinggal satu kursi yang diperebutkan oleh semua caleg. Apalagi sebelum keputusan suara terbanyak MK, caleg yang dipilih adalah yang berhasil memperoleh 30% BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) atau setara dengan 12.500 suara. Rendahnya motivasi para caleg ini telah mengakibatnya susahnya partai untuk dapat mengajak para caleg untuk berkontribusi dalam menjalankan program-program kampanye partai agar dapat menjalankan mesin partai.

Keluarnya keputusan MK tentang penentuan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak memang sedikit membuat masing-masing caleg berpacu dan bersaing untuk meraih suara. Tidak jarang terjadi konflik internal karena rebutan basis. Alih-alih memperbesar suara dengan masuk ke kantong-kantong suara partai lawan. Masing-masing caleg saling berberebut untuk masuk ke wilayah-wilayah yang memang merupakan basis partai demokrat. Dengan berbagai cara dan taktik dari masing-masing caleg, struktur Partai yang seharusnya netral jadi terbagi kedalam beberapa blok kepentingan. Tidak jarang seorang caleg ditolak untuk masuk ke suatu wilayah yang telah dikuasai oleh caleg lain.

Kampanye Caleg

Kita yang dari awal telah menfokuskan untuk menggarap basis non struktur dalam rangka pembesaran partai harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Tantangan paling berat adalah pragmatisme warga masyarakat yang telah sangat apatis terhadap kondisi politik. Menghadapi apatisme tersebut, pendidikan politik merupakan satu-satu cara yang dapat dipergunakan. Tema-tema pendidikan politik yang kita usung adalah: Pertama,Participatory Budgeting (Anggaran Partisipatif) - yakni sebuah model penganggaran yang berasal dari, oleh dan untuk warga. Model ini diambil dari success story penerapannya di negara-negara Amerika Latin terutama Porto Alegre sebuah negara bagian di Brasil. Apalagi secara nasional, pelaksanaan anggaran berbasis warga ini telah diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru menerapkan program ini untuk Program Dana Penguatan Kecamatan dan Kelurahan melalui mekanisme Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Tidak optimalnya pelaksanaan program ini mengakibatkan tema ini cepat direspon oleh warga masyarakat. Kedua, Kesehatan Gratis untuk Warga miskin, di tingkat Provinsi DKI Jakarta pemerintah telah melaksanakan program Jaringan Pengamanan Kesehatan untuk Keluarga Miskin (JPK-Gakin) serta pemberian Surat Keterangan Untuk Keluarga Tidak Mampu (SKTM) bagi warga yang tidak dapat digolongkan miskin, kepada mereka dibebankan kontribusi sebesar kesanggupannya. Program ini dilaksanakan dengan melakukan pendampingan bagi warga yang tidak mampu untuk berobat ke RS-RS yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Program lain yang dijalankan adalah Pendampingan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para pedagang yang membutuhkan bantuan modal usaha. Program lain adalah Kontrak Politik antara Caleg dengan warga berkaitan dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh Caleg dalam memperjuangkan aspirasi warga.

Berbagai program tersebut menjadi tema kampanye yang menarik minat warga masyarakat. Sayangnya, dalam waktu yang sedikit program ini tidak memadai untuk merekrut banyak pemilih. KUR misalnya telah membantu 55 orang Pedagang, Pendampingan Kesehatan telah membantu 200 orang untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan, Kampanye Dana Penguatan telah mengakibatkan adanya lurah yang dimutasikan karena tidak melaksanakan program tersebut secara nyata.

Aku berpikir bahwa dalam konteks kampanye politik yang paling penting adalah adanya interaksi secara langsung antara caleg dengan konstituennya. Interaksi saja memang tidak cukup, interaksi yang terjadi harus menciptakan trust (kepercayaan) antara caleg dan konstituen. Memang dalam proses tersebut kita tidak menafikkan perlunya untuk mengeluarkan cost politic tertentu.

Entahlah apakah program kampanye tersebut efektif atau tidak? yang jelas di Jakarta Pusat pada masa "booming" Partai Demokrat kita berhasil mendapatkan 4 dari 10 kursi anggota DPRD untuk Jakarta Pusat, dengan 3 diantaranya merupakan kader internal DPC PD Jakarta pusat. (M. Firmansyah, Edward H. Napitupulu, dan Taufiqurrahman). Suatu perolehan kursi yang lebih tinggi dari target awal kita.

Konsolidasi Struktur

Konsolidasi struktur Partai memiliki permasalahan tersendiri, berbeda dengan saat menjadi tim sukses, di mana kita diharuskan berpihak kepada salah satu caleg tertentu. Saat terlibat dalam mesin partai seseorang diminta untuk bertindak netral jika tidak akan menimbulkan resistensi dari struktur yang telah terpecah-pecah pada kepentingan masing-masing caleg. Upaya mengkondisikan struktur kita mulai pertengahan Februari dengan menghidupkan Badan Pemenangan Pemilu (BAPPILU) yang selama ini vakum.

Upaya pengkondisian struktur di luar dugaan ternyata berjalan dengan baik, semua struktur dari tingkat anak cabang, ranting dan anak ranting sangat kooperatif dalam menjalankan kerja-kerja kepartaian untuk pemenangan Pemilu Legislatif, tidak jarang kita mesti memanggil mereka menghadap tengah malam atau subuh-subuh untuk menyempurnakan segala persiapan. Entah spirit seperti apa yang tiba-tiba melingkupi mereka, mengingat selama ini upaya pengkaderan secara ideologis memang masih kurang dilakukan. Aku menduga mungkin kecintaan mereka pada figur SBY.

Kecuali 'kegagalan' rapat umum tanggal 20 Maret 2009 yang disebabkan oleh ulah segelintir oknum di DPD PD Jakarta. Seluruh aktivitas pilleg yang dilakukan oleh struktur seperti: Penyiapan saksi di 1.880 TPS di Jakarta Pusat, pembekalan saksi, Pengawalan Perhitungan suara di tingkat kecamatan berjalan dengan baik. Perhitungan suara yang dapat kita selesaikan pada hari H+3 memiliki akurasi yang sangat tinggi dan hampir tidak ada perbedaan dengan hasil rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPUD Jakarta Pusat. Di samping itu, dari pengamatanku di lapangan, kader-kader PD dapat berbaur dengan baik dengan kader-kader partai lainnya sehingga dapat meredam berbagai resistensi yang terjadi. Inilah merupakan modal yang sangat baik dalam persiapan pilpres pada 8 Juli mendatang.

Kurang siapnya KPU dalam pelaksanaan Pemilu 2009

Selama proses ini, aku mengamati bahwa KPU memang belum siap dalam melaksanakan pemilu 2009 ini. Mungkin wajar karena dana yang tersedia memang sangat minim, sehingga sosialisasi cara memilih tidak dapat diselenggarakan secara maksimal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah, misalnya di Kelurahan Gunung Sahari Selatan, petugas PPS tidak mengerti bahwa pemilih yang mencontreng partai dan caleg maka suara pemilih tsb akan dihitung untuk caleg yang bersangkutan. Petugas tersebut bersikeras bahwa suara pemilih tersebut akan menambah suara partai dan caleg, meskipun saksi kita telah mengingatkan bahwa tidak mungkin satu pemilih memiliki 2 hak suara. Keadaan inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara jumlah pemilih sah dan suara yang masuk ke partai dan caleg seluruh Partai. Dalam proses perhitungan yang dilakukan oleh PPK juga ditemui berbagai kesalahan yang sifatnya 'human error'. Kasus yang sempat menuai protes dari Parpol lagi2 terjadi di Kemayoran. Kesalahan yang terjadi adalah adanya kesalahan PPK dalam memindahkan jumlah suara dari lembar sebelumnya sehingga menimbulkan penggelembungan suara untuk seluruh Partai, untunglah semua pihak kemudian dapat menerima. Aku membayangkan bahwa keadaan seperti ini pulalah yang menyebabkan maraknya protes di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Di samping itu, saat rekapitulasi suara aku sangat menyayangkan dilakukan secara terbuka penuh, semua orang diperkenankan masuk kedalam ruangan: Caleg, Tim Sukses, wartawan, LSM. Entahlah karena ingin mengesankan bahwa mereka demokratis, kondisi ini melahirkan hujan protes yang malah dilakukan tanpa argumentasi dan data yang jelas. Seharusnya, KPU hanya melibatkan saksi-saksi Partai Politik saja. Ke depan semoga KPU lebih dapat melakukan persiapan secara lebih detail. Jika tidak berbagai kekisruhan akan kembali terjadi.

December 03, 2005


Seandainya kita diberikan kebebasan sepenuhnya
Mampukan kebebasan itu melepaskan kita dari takdir
sebagai aktor lelucon semesta?

Jenuh

Pernah berpikir betapa ganjilnya kita diciptakan di dunia ini? Aku selalu memikirkannya, terkadang menganggapnya sebuah lelucon. Tak ada pengetahuan yang lengkap akan awal keberadaan kita dan tak juga ada pengetahuan akan akhir. Bahkan satu-satunya kelebihan 'kita' dibandingkan makhluk lain yakni rasionalitas, tak memiliki kemampuan untuk menemukannya.

Bagi sebagian orang agama adalah pelarian yang sangat nyaman, hal inilah yang coba dijelaskan oleh bounded-rationality theory. Dengan agama kita mengikuti lantunan irama semesta, rasakan misalnya lantunan suara adzan yang mengikuti perputaran bumi atau misa kudus di minggu pagi. Sungguh nyaman hidup dalam keharmonisan seperti itu. Bergerak, bernafas, dan menjalani berbagai hal menuju arah takdir yang dipercayai yakni kematian diri dan kehancuran semesta.

Dalam suasana batin seperti ini seseorang akan teramat kuat mengatasi hidup karena dia tidak memiliki keterikatan dengan segala hal yang fana. Ia menjadi tidak takut miskin, tidak takut lapar, tidak takut kejahatan, tidak takut melawan penindas bahkan tidak takut untuk meledakkan dirinya demi sebuah usaha yang mungkin juga dirasakannya absurd.

Berbicara tentang keterbatasan akal yang melatar belakangi keharmonisan hidup diatas, aku jadi berpikir bahwa apabila kita percaya bahwa kita adalah ciptaan maka kita tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan pencipta kita. Jika kita tidak mampu menjelaskannya lalu bagaimana mungkin di saat yang sama kita dapat mematuhinya (?).

Anggaplah kita merasa dekat dengan- Nya bukan melalui akal akan tetapi dalam pengalaman batin (fenomenologis), sebuah derajat keyakinan tertentu - sebuah dugaan perceptive, lalu bagaimana mungkin pengalaman batin individual kita tersebut menjadi alat yang menjadikan kita menerima sebuah ajaran agama tertentu yang bersifat umum seperti menjalankan ibadah agama dan sebagainya. Kenapa kita tidak menjadikan urusan agama ini menjadi urusan yang sangat rahasia, urusan antara kita dan tuhan sendiri tanpa ada penuntun apalagi perantara. Karena hal ini aku percaya kita bisa bebas dari agama. Bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrem karena kita bisa meragukan tuhan kita juga dapat meragukan perlunya segala hal yang baik.

Pertanyaan sekarang jadi sebuah pilihan filosofis: terjun bebas ke jurang yang mana?

November 09, 2005

Agaknya sang Jenderal mulai kehabisan energi juga kehilangan akal sehatnya. Keyakinannya terhadap liberalisasi pasar tentu bukanlah hal yang baik bagi kelangsungan kekuasaannya paling tidak dalam jangka pendek ini. Dana kompensasi pencabutan subsidi BBM melalui penerapan model bantuan tunai langsung (merupakan eksperimen pertama di dunia) tentu saja dapat menenangkan golongan terbawah rakyat Indonesia. Tapi ia lupa bahwa perubahan politik di Indonesia terutama diusung oleh kelas menengah. Bertahan atau tidaknya sebuah kekuasaan politik di Indonesia sangat ditentukan oleh sikap golongan ini terhadap sebuah kekuasaan.

Tentu saja masih tersisa sedikit keyakinan terhadap kepemimpinannya, akan tetapi sedikit demi sedikit seiring dengan penerapan agenda liberalisasi pasar diterapkan kepercayaan yang tertinggal akan semakin tergerus. Mungkin sang Jenderal menyadari hal ini maka sebagai seorang jenderal ia menerapkan keahlian utamanya dalam politik pertahanan, bukan untuk mempertahankan kedaulatan negara dan rakyat melainkan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kecenderungan ini sudah tampak nyata.

October 13, 2005

Aku sering merasakan semua benda disekelilingku hidup, bernafas, dan berbicara. Saat merasakan hal itu aku berada dalam keadaan antara sangat senang sekali dan kebingungan harus menempatkan diri. Kadang aku berada dalam suasana yang sangat serius, terlibat dalam berbagai hal detail dari dunia nyata.

Anehnya, dalam kedua situasi ini aku merasa senang. Kebahagian yang pertama disebabkan karena aku merasakan benar-benar hidup sebagai sebuah pribadi tersendiri, sementara kebahagian kedua disebabkan aku berhasil untuk melupakan tujuan hidup itu sendiri.

October 04, 2005

Menjelang Ramadhan...

Ramadhan, setiap bulan itu datang aku selalu agak kesusahan. Jadi kesulitan nyari makan dan yang lebih parah lagi jadi berasa gak enak kalau merokok di keramaian. Kenapa orang harus selalu menghormati orang yang berpuasa? Kenapa tidak berlaku sebaliknya bahwa orang juga mesti menghormati keyakinan orang lain untuk tidak berpuasa?

Aku sudah mulai berpuasa dari kelas 4 SD dan terakhir sampai kelas 2 SMP, bahkan pada saat itu, bokap/nyokap kesulitan membujukku untuk membatalkan puasa. Aku rasa pada saat itu aku memiliki sebuah kepatuhan buta kepada sesuatu yang maha agung yang tak kuketahui. Berada dalam suasana religius itu terkadang menentramkan. Bahwa ada sesuatu entah dimana dia melihat engkau, ciptaannya. Perasaan seperti itulah yang membuat seseorang merasa tidak teralienasi dari kehidupan bahkan berdialog dengannya.

Tidak ada salahnya memang seseorang memilih ekspresi religiusitas seperti itu, maksudku melakukan semacam kepatuhan seperti itu jika dengan hal itu dia merasa tentram. Dan tidak salah juga, bila seseorang memilih ekspresi religiusitas dengan cara lain, seperti melakukan pembangkangan, misalnya dengan tidak berpuasa pada bulan ramadhan.

Banyak orang yang menganggap bahwa aku atheis dsb, dan anehnya aku selalu mengafirmasi apa yang mereka katakan. Aku merasa bahwa memang aku tidak beragama seperti mereka beragama, tidak mempercayai tuhan sebagaimana mereka mempercayainya.

Aku mempercayai tuhanku sendiri, di saat-saat sulit kadang aku masih sering berdialog dengannya mengenai keterbatasanku dan kekuasaan absolutnya. Belum cukup ada sebuah alasan yang baik bagiku untuk berpuasa, sebenarnya sesederhana itulah penjelasan dariku mengapa aku tidak berpuasa.

Tadi malam sehabis merayakan "malam penutupan" di Grand Manhattan kata beberapa teman aku muntah darah (aku sudah terlalu mabuk untuk dapat mengetahuinya sendiri). Sampai tadi aku masih memikirkan hal itu bahkan membicarakannya lama dengan supir taksi dalam perjalanan pulang, aku mulai berpikir untuk berhentik mengisap Gudang Garamku, mengurangi Alkohol, mengurangi keluar malam, mengurangi beer, mengurangi kopi, menjaga kesehatan.

Mungkin "your time is running out" seperti yang dikatakan seorang teman tadi malam merupakan sebuah alasan yang baik bagiku untuk mulai berpuasa. Tapi itu tergantung besok pagi jika aku ternyata bangun dan minum segelas air berarti selama sebulan penuh kedepan akan tidak akan berpuasa.

September 28, 2005

Dunia Berantakan...

Dunia Berantakan!!!

Dunia yang Berantakan! Itu yang kurasakan beberapa hari ini tentang keadaan dunia di sekelilingku. bagaimana tidak, Virus AI (H5N1) telah menyebar kemana-mana tapi anehnya pemerintah tidak mengambil tindakan yang berarti. Hanya mengeluarkan himbauan yang bersifat menenangkan dan bahkan sebenarnya bersifat menipu. Kita ditenangkan dengan menyatakan bahwa Virus AI akan sulit menular pada manusia, cukup dengan masak diatas suhu 100 derajat celcius dan sebagainya.

Padahal menurut beberapa pakar virus tersebut sangat cepat melakukan mutasi genetik sehingga sekarang telah mampu menembus barrier antar spesies. Misalnya: Kucing yang memakan ayam yang terjangkiti H5N1 akan dapat menjadi carrier bagi penyebaran virus di samping itu penuluran juga dapat dilakukan melalui udara. Seorang Peneliti dari Guan China yang pertama kali melakukan penelitian terhadap Virus ini sangat mengkhawatirkan terjadinya epidemic Global bahkan ia sangat yakin akan terjadinya hal ini.

Terhadap hal ini, aku sedikit kesal dengan pandangan para pedagang ayam melalui asosiasinya yang menolak pemerintah memasukan serangan wabah ini menjadi KLB karena mengkhawatirkannya dampaknya terhadap usaha mereka. Mungkin di kepala mereka hanya ada perhitungan untung rugi tanpa peduli keselamatan orang lain bahkan mungkin diri mereka sendiri dan keluarganya. Aku telah mulai Boikot makan ayam dan produk turunannya dan mulai kesulitan mencari makanan penggantinya :-(

Kejadian lain yang membuatku cemas adalah kenaikan BBM yang sangat Drastis, menurut beberapa sumber sebesar 75%. Persoalannya adalah karena subsidi untuk BBM tahun ini telah mendekati batas yang ditetapkan sehingga untuk beberapa bulan ke depan sudah tidak ada lagi subsidi bagi pembelian BBM. Kenapa kok anggaran dibuat dengan semudah itu? apa gak ada mekanisme lain sehingga rakyat tidak makin susah? apalagi program-program kompensasi yang sangat populis kelihatannya akan sulit mencapai sasaran. Misalnya subsidi pendidikan, jika diperhatikan dalam prakteknya tidak terlaksana. Penyebabnya adalah sistem birokrasi kita terlalu lamban untuk menutupi celah-celak praktek mencari keuntungan dari pihak sekolah dan guru-guru rakus. Misalnya setelah semua biaya BOS dan BOP (Jakarta) diberikan, ternyata masih ada peluang untuk melakukan pungutan dalam bentuk kegiatan les dan ekstrakurikuler.

Kemudian kebijakan untuk memberikan uang 100 ribu sebulan juga hampir pasti akan gagal karena pendataan untuk keluarga miskin belum selesai dan mengadung sangat banyak persoalan dalam penyalurannya. JPK Gakin dan PPMK (Jakarta) tidak berjalan karena persoalan pendataan keluarga miskin yang lemah sehingga akan sangat rawan terjadinya manipulasi data oleh pejabat yang berwenang dalam proses penyalurannya. Jadi hampir pasti kesejahteraan rakyat kecil akan kembali tergerus dengan kebijakan ini.

Tentang kenaikan BBM sebenarnya aku setuju dengan adanya mekanisme penyesuaian harga. Faisal Basri dalam sebuah diskusi juga sangat menganjurkan kenaikan harga BBM, menurutnya akan ada mekanisme adaptasi dari masyarakat. Akan tetapi, menurutku proses adaptasi ini baru dapat dilaksanakan dengan perlahan. Oleh karenanya, kenaikan BBM pun harusnya juga dilaksanakan secara bertahap serta dilakukan dengan penjadwalan yang jelas, misalnya kenaikan setiap 3 bulanan atau setiap bulan seperti pada masa pemerintahan Megawati. Dengan demikian, dunia usaha dan rakyat kecil dapat bernapas dan beradaptasi.

Kejadian menurunnya nilai tukar rupiah juga mengkhawatirkan, cobalah cek di situs BI kenapa kok laporan cadangan Devisa kita sejak bulan Juli tidak lagi diumumkan setiap bulan kepada publik seperti biasanya???

Hal ini membuktikan bahwa penyelenggaraan negara kita berantakan dan itu semua menjadikan dunia kita juga berantakan...

September 19, 2005

Refleksi dan mimpi

Ketakutan untuk menjadi Zombie? itulah yang membebani pikiranku sejak tadi pagi. Zombie dalam artian sesuatu yang bertindak dan berpikir bukan untuk dirinya sendiri. Secara praktis paling tidak dari jam 9 sampai jam 5 sore kita telah benar-benar kehilangan kontrol terhadap diri kita. dengan kata lain kita telah menjual diri kita. Tapi sebenarnya lebih dari jam-jam itu kita telah menjual seluruh hidup kita bukan?...

July 30, 2005

Malam pekat di cangkir red wine yang kita reguk
Ada yang tersembunyi di alam misteri hati kita
Yang tak pernah mampu kumengerti
Sekelopak mawar pada bola matamu

Tentu saja keindahannya kukagumi dengan caraku sendiri
Kusembunyikan dalam gejolak hatiku

Meski kadang menyusahkan dan kehilangan arti

Aku mengejamu,
Dalam absurd penanda metropolitan
Membentuk kau dalam keresahanmu
Dan mimpi-mimpimu.

"Mungkinkah tuhan menyerahkan surga bagi kesabaran
dan kedamaian promoteus menjalani siksa? "



Pendidikan Dasar Gratis sebuah ilusikah?

Sebuah angin segar berhembus kepada rakyat yang tersandar letih seharian memikul begitu banyak beban hidup. Pemerintah telah mencanangkan program pendidikan gratis begitu yang terdengar? berarti tidak akan ada lagi biaya pendaftaran siswa baru (PSB), tidak ada lagi uang daftar ulang dan tidak ada lagi iuran bulanan yang terasa sangat memberatkan keluarga tidak mampu. Berarti tidak ada lagi yang mesti mereka pikirkan untuk pendidikan anaknya, paling tidak selama ia menjalani pendidikan dasar sembilan tahun semua biaya pendidikan telah ditanggung oleh negara.

Katanya, ada dana yang sangat besar sebesar 6,272 Triliun rupiah yang akan diberikan kepada seluruh SD dan SMP di Indonesia. Sungguh sebuah program yang sangat berani dan merakyat sekali, sangat menyentuh. Saking bersemangatnya mengajukan usulan ini, pemerintah dan panitia anggaran DPR RI ternyata lupa berhitung!

Jika di setiap SD biaya operasional per siswa adalah Rp.235.000,- dan untuk SMP sebesar Rp. 324.000,-maka marilah melakukan perkalian dan penjumlahan sederhana seperti yang diajarkan kepada kita di SD dulu. Menurut data dari Departemen Pendidikan Nasional, Murid SD pada tahun ajaran 2002/2003 berjumlah 25,9 juta dan siswa SMP berjumlah 7,4 juta, maka jika dikalkulasikan hasil penjumlahannya adalah sebagai berikut: (25.900.000 X 235.000) + (7.400.000 X 324 .000) = 6.086.500.000.000 + 2.397.600.000.000 = 8.484.100.000.000. Ternyata ada kekurangan 2,212 trilun.

Nah, inipun jika perhitungan biaya operasional pendidikan yang akan ditutupi melalui block grant mencakupi semua biaya untuk menyelenggarakan pendidikan. Akan tetapi, ternyata pemerintah kembali tidak memperhitungkan biaya real untuk menyelenggarakan sebuah pendidikan. Kesalahan ini mungkin bukan karena kealphaan. Akan tetapi, karena orang-orang pemerintahan kita belum dapat memahami konsep-konsep dalam akuntansi biaya yang lazim diajarkan di tingkat Universitas. Buktinya, biaya-biaya seperti Listrik, telepon, alat tulis, telepon, dan biaya untuk kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler tidak diperhitungkan. Sungguh bukan sebuah kealphaan tapi sebuah kekeliruan.

Berarti akan ada defisit anggaran bagi sekolah, berarti akan adanya usaha untuk mencari tambahan, solusi konvensional atau tidak kreatif yang biasa dipilih adalah menarik pungutan dari orang tua siswa dengan melibatkan Komite Sekolah yang selama ini begitu akur dengan pihak sekolah dalam menyerap dana dari orang tua siswa. Apakah janji pendidikan gratis ini kemudian hanyalah menjadi ilusi saja?

Tapi sebenarnya tidak. Persoalan ini seharusnya tidak usah dikhawatirkan, kebijakan pendidikan gratis masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan sebuah syarat: Pemerintah dalam semua tingkatannya mesti serius, peka dan flexible dalam membuat kebijakan yang berpihak pada orang kecil.

Tapi mungkin juga keinginan untuk memiliki birokrasi pemerintahan yang seperti inilah yang merupakan ilusi. Bagaimana tidak. Sampai dimulainya tahun ajaran baru 2005/2006 dimana program pendidikan gratis seharusnya sudah dimulai, Dana Block grant ini belum diturunkan. Alasannya JUKNIS mengenai Standar Pembiayaan Pendidikan baru dapat diselesaikan pada akhir Agustus 2005 ini. Akibatnya, pemerintah mengakui masih kesulitan untuk menghentikan pungutan yang dilakukan sekolah. Simplifikasi permasalahan oleh Mendiknas adalah ' jika pungutan dihentikan sementara anggaran untuk biaya operasional sekolah baru diturunkan akhir Agustus maka sekolah tidak bisa beroperasi, artinya akan banyak sekolah yang tutup '.

Rencana pemerintah untuk mengratiskan biaya pendidikan mulai tahun ajaran 2005/2006 ini praktis telah gagal. Kita telah mendengar banyak berita menyedihkan berkaitan dengan upaya orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, ada seorang ibu dari Petamburan yang menjadi joki 3 in 1 lalu tertangkap, ada banyak keluarga yang terbelit ' uang panas ' dengan bunga 30% per bulan. Mungkin masih banyak lagi cerita lain yang tidak terungkapkan Sungguh kegagalan yang sangat menyesakkan sebenarnya. Entah agenda ' politik minyak ' seperti apa yang akan diusung (?), bagi saya sendiri ini sebuah kebodohan dan ketidakberpihakan pada rakyat kecil. pemerintah terlihat tidak berusaha mencarikan solusi cepat untuk mengatasi masalah ini? Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah menutupi biaya operasional sekolah cuma untuk 2 bulan. Jika dihitung besarnya hanya sekitar 707 miliar rupiah saja.

Menurut saya solusinya tidak terlalu sulit. Misalnya, anggaran pendidikan dalam APBD disetiap daerah diprioritaskan untuk menalangi program yang secara prinsip telah disetujui DPR ini. Potensi dana ini cukup besar dengan telah adanya kebijakan untuk menetapkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD tiap daerah, di DKI Jakarta saja ada anggaran untuk program prioritas pendidikan sebesar Rp. 1.059.134.545.786,- dengan program prioritas yang nyaris sama yaitu pengembangan pendidikan dasar.

Ada beberapa pertimbangan dari hal ini. Pertama, untuk menghindari tumpang tindih program dan memungkinkan pemerintah daerah memformulasikan program lain yang bermanfaat dalam menutupi kekurangan program pendidikan gratis dari pemerintah pusat. Kedua, pengawasan dan block grant tahap pertama ini akan lebih efektif jika dilakukan oleh PEMDA. dan Ketiga, untuk menghindari inefisiensi dalam pengelolaan anggaran daerah (sampai dengan pertengahan tahun 2005 realisasi APBD DKI Jakarta baru 3%).

Tapi entahlah, pendidikan gratis dari pendanaan, menurut saya, sangat mungkin ada, sama sekali bukan ilusi. Malah sebuah birokrasi pemerintahan yang punya keseriusan, kepekaan, fleksiblitas, sedikit kecerdasan dan keberpihakan pada rakyat kecil inilah yang justru merupakan sebuah ilusi.