Jan 11, 2012

Senggang

Akhirnya ada waktu senggang juga setelah hampir 4 bulan berkutat dengan pekerjaan yang sangat menguras pikiran, waktu dan tenaga. Mungkin karena itulah saya memborong banyak buku bacaan (biasanya juga tidak terbaca juga). Hari ini saya membeli beberapa judul buku baru dan beberapa buku yang pernah saya miliki namun karena sering berpindah-pindah keberadaannya sudah tidak terdeteksi. Buku yang saya beli adalah: "The Clash of Civilization and Remaking of World Order", "Community Development", "Merentas Arah Kebijakan Sosial Baru di Indonesia", "Kebebasan, Negara dan Pembangunan", serta "Menuju Sejarah Sumatera". Bagi saya buku adalah tempat relaksasi pikiran dari berbagai hal yang profan dalam kehidupan sehari-hari. Pikiran membutuhkan tamasya menuju suatu tempat baru yang menyegarkan - suatu cakrawala baru yang terkadang menggetarkan.

Harus saya akui, jarangnya saya bersentuhan dengan masyarakat marginal membuat kepekaan saya terhadap berbagai isyu-isyu sosial menurun drastis, permasalahan masyarakat terdelusi menjadi pemenuhan kebutuhan dasar saja, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan sebagainya. Padahal saya percaya ada persoalan struktural yang perlu dituntaskan, penuntasan persoalan ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh pemerintahan yang berkuasa, melainkan oleh proses dialektis pertarungan kelompok tertindas dg penindasnya. Pertarungan tersebut akan berlangsung di seluruh aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.
Dapatkah seseorang bersikap netral terhadap pertikaian tersebut? Dapatkah seseorg tidak memihak? Menurut saya seseorg tdk dpt melepaskan dirinya kecuali ia begitu pandir atau berkhianat pada dirinya sendiri. Di titik ini saya bertanya: Di pihak manakah saya berdiri? Hanya saya dan tuhan yg mengetahuinya.

Dec 26, 2011

Waktu yang berdenting

Tanpa terasa perjalanan hidupku telah sampai disini. Menyaksikan kamu dan si buah hati tertidur lelap tanpa perasaan cemas dan gelisah, semua itu merupakan kebahagian tersendiri bagiku. Tuhan telah memberiku kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Kadang aku bertanya kebaikan apakah yg telah kulakukan sehingga diberi anugerah seperti ini? Aku hanya mampu bertanya dalam lirih - pada tuhan yang hanya mampu kuyakini..

Sep 23, 2011

Menyapa...

Membaca kembali blog lama-ku, seperti menemui seorang yang sangat asing. Dulu aku terlalu banyak berpikir, juga terlalu banyak menyerap impuls-impuls di sekitarku. Semakin bertambah usia aku merasa menjadi orang semakin praktis, semakin pragmatis dalam menghadapi kehidupan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, terkadang aku merasa semakin sulit untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Semua hal menjadi tidak lagi sederhana, semua hal menjelma menjadi pilihan-pilihan yang rumit.

Jul 28, 2010

Rara

Bagiku sekarang Rara adalah segala-galanya. Kesakitan dan kesedihannya bisa kurasakan dalam kadar yang berlipat ganda. Sekarang Rara sedang sakit - flu yang cukup berat, tidak parah cuma tidak bisa tidur saat malam. Dan karena kesibukan di kantor sering aku tinggalkan. Keadaan ini sungguh menyedihkan.

Jul 30, 2009

Maera Putri Pertiwi

Lahirnya si permata hati

Maera Putri Pertiwi anak pertamaku, lahir 2 Juni 2009. Saat sebelum kelahirannya aku sempat terkena sindrom Babyblues, sebuah keadaan psikolgis yang sangat parah. Hampir setiap hari aku selalu mendengar atau melihat di tv, majalah dan koran berita mengenai bayi-bayi yang dilahirkan dalam sebuah keadaan yang tidak sempurna. Malah secara diam-diam aku mencoba menyiapkan diriku secara psikologis untuk menerima keadaannya apapun yang nanti akan terjadi.

Entah kenapa hal ini muncul, mungkin karena aku tinggal dan tidur bersama kucingku si Titi. Untungnya dokter tempat kita periksa rutin Dr. Moch. Baharuddin, Dirut RS Budi Kemulyaan, selalu dapat menenangkan kita. Kekhawatiran ini tidak pernah sekalipun aku kemukakan pada Ruri, takut malah akan semakin memberatkannya dalam menghadapi masa-masa kehamilannya.

Dalam masa-masa kehamilan istriku, aku terlibat dalam kesibukan yang luar biasa. Membantu orang-orang terdekat untuk dapat memenangkan pemilihan legislatif serta menggerakkan mesin partai untuk bekerja. Sebuah pekerjaan yang hampir tidak ada tolak ukur keberhasilannya. Satu-satunya yang bisa dijadikan acuan adalah: semakin kita keras bekerja maka akan semakin besar peluang untuk dapat keluar sebagai pemenang, apalagi sumber daya finansial kita sangat terbatas.

Hampir setiap hari aku terpaksa pulang larut malam dan meninggalkan istriku sendirian di rumah. Aku sangat memahami kesedihannya saat itu, cuma dari pengalaman hidupku aku telah mempercayai bahwa seorang laki-laki dalam dunia yang patriarkis ini haruslah mengutamakan pekerjaannya. Rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta saja tidak pernah akan bisa bertahan jika berhadapan dengan tuntutan riil kehidupan. Aku harus minta maaf kepada istri dan putriku atas semua keputusan itu.

Segera setelah urusan Pemilu legislatif selesai, kami memutuskan untuk pindah ke Depok, berada dekat dengan kediaman orang tua istriku sehingga Ruri bisa lebih tenang menjalani masa-masa hamil tuanya.

Sampai pada tanggal 2 Juni 2009, pada pukul 06.00 WIB pagi, Ruri membangunkan dan mengatakan bahwa ada darah yang keluar. Aku melihat darah berceceran di lantai dan sempat panik serta menghubungi orang-orang terdekat. Saat di Rumah Sakit, berdasarkan pemeriksaan Dokter, air ketuban ruri indeksnya ternyata kurang. Ada dua pilihan ceasar atau diinduksi. Setelah konsultasi dengan ibu-nya Ruri maka kita memutuskan untuk dilakukan Induksi. Proses induksi memang menyakitkan. Tidak tega melihat ruri merontak-rontak kesakitan seperti itu. Dari Jam 1 Siang sampai jam 11 malam, Ruri menghadapi sebuah kesakitan yang sangat luar biasa. Aku minta dia bertahan jika pada jam 12 malam masih belum lahir maka kita akan ambil tindakan ceasar. Saat itu, aku sempat berdoa pada tuhan bahkan berjanji untuk melaksanakan sholat 5 waktu jika dapat melalui keadaan itu dengan selamat dan baik-baik saja.

Untunglah, tepat pukul 11.15 putri kami lahir, aku menemani Ruri dalam keseluruhan proses kelahiran tersebut. Bersyukur dan bahagia sekali melihat Ruri dan Putri kami berada dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang satu apapun. Rasanya itulah kebahagian yang tertinggi yang aku alami memecahkan rekor ketika aku berhasil lulus ujian sarjana di Fisip UI.


Maera Putri Pertiwi


Dalam memberikan nama sebenarnya kita berdua tidak cukup siap. 2 Kali USG gagal untuk mengungkapkan jenis kelamin bayi kami. Dari berbagai tanda-tanda selama masa kehamilan, kami berdua sangat yakin bayi kami akan berjenis kelamin laki-laki. Kami telah sepakat untuk memberikannya nama: Maera (ISTANA) Rarna (Menyenangkan) dan aku menyiapkan tambahan nama Nusantara dibelakangnya.

Namun karena ternyata bayi kita perempuan, beberapa hari kita mencari nama yang cocok. Ada sekitar ratusan nama yang aku sortir. Dari beberapa nama itu kami memilih 4 nama, yaitu:

1). Ariane Pratiwi Armani
2). Raissa Ramaniya Pratiwi
3). Anjaly Ramaniya Pratiwi
4). Maera Putri Pertiwi

Akhirnya, setelah mendapat masukan dari beberapa teman dekat dan berdasarkan hitung-hitungan Jawa yang aku tidak begitu mengerti kami memutuskan memilih nama anak kami Maera Putri Pertiwi= Maera (Kebahagian=Irlandia) yang kurang lebih artinya: "Putri Kebahagian Ibu Pertiwi".

Aku berharap nantinya putriku dapat tumbuh menjadi sebuah pribadi yang kuat, peduli pada nasib orang-orang yang tertindas dan membawa kebahagian bagi banyak orang. Bukan tipe kepribadian materialis invidualistis sebagaimana kebanyakan tipe-tipe manusia di zaman kapitalistik. Jika memungkinkan nanti, aku sendiri yang akan mengajarkan berbagai ilmu sosial, sejarah, filsafat, dan politik ekonomi. Aku akan mengajaknya memahami masyarakatnya yang selalu ditindas baik oleh bangsa lain maupun oleh penguasa di negerinya sendiri. Semoga aku masih diberikan umur yang cukup untuk melihat putri tercintaku tumbuh berkembang.




May 5, 2009

Pesta Demokrasi 'rakyat' 2009

Pesta demokrasi rakyat baru saja selesai, inilah kali pertama aku mengikuti proses tersebut dari A-Z. Dari penentuan nama caleg yang penuh ketegangan dan tarik-tarikan kepentingan, penetapan visi misi, penentuan strategi & taktik kampanye, konsolidasi internal, membuka kontak-kontak non struktur di beberapa wilayah, pertemuan terbatas, merancang program maintan basis-basis pemilih, rapat umum, penentuan saksi-saksi tps, perhitungan suara sampai kepada penetapan calon anggota legislatif terpilih melalui rapat pleno KPUD DKI Jakarta. Sungguh merupakan suatu proses yang sangat melelahkan dengan berbagai dinamika dan permasalahannya sendiri. Sungguhpun proses ini masih aku yakini sebagai ranah dari politik elitis, aku cukup senang karena sangat banyak pelajaran yang dapat diambil dari keseluruhan proses tersebut.

Saat penentuan caleg dari PD Jakarta Pusat, kondisi politik memang sedang tidak menguntungkan. Minat seseorang untuk menjadi caleg PD di Jakpus sangat rendah, terutama dari kalangan perempuan. Prediksi paling optimistis dan realistis sewaktu itu adalah 2 kursi di DPRD DKI Jakarta atau sama dengan perolehan pada tahun 2004 yang lalu. Apalagi jika kita mengambil tolak ukur pilkada 2007 (sebagai sebuah tolah ukur yang paling realistis) di mana Adang - Dani Anwar yang diusul oleh PKS berhasil meraih 47% suara. Aku pikir jatah 1 kursi waktu itu, sudah jelas untuk Ketua DPC yang telah berkontribusi banyak dan membangun struktur partai sampai ketingkat anak ranting (RW). Tinggal satu kursi yang diperebutkan oleh semua caleg. Apalagi sebelum keputusan suara terbanyak MK, caleg yang dipilih adalah yang berhasil memperoleh 30% BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) atau setara dengan 12.500 suara. Rendahnya motivasi para caleg ini telah mengakibatnya susahnya partai untuk dapat mengajak para caleg untuk berkontribusi dalam menjalankan program-program kampanye partai agar dapat menjalankan mesin partai.

Keluarnya keputusan MK tentang penentuan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak memang sedikit membuat masing-masing caleg berpacu dan bersaing untuk meraih suara. Tidak jarang terjadi konflik internal karena rebutan basis. Alih-alih memperbesar suara dengan masuk ke kantong-kantong suara partai lawan. Masing-masing caleg saling berberebut untuk masuk ke wilayah-wilayah yang memang merupakan basis partai demokrat. Dengan berbagai cara dan taktik dari masing-masing caleg, struktur Partai yang seharusnya netral jadi terbagi kedalam beberapa blok kepentingan. Tidak jarang seorang caleg ditolak untuk masuk ke suatu wilayah yang telah dikuasai oleh caleg lain.

Kampanye Caleg

Kita yang dari awal telah menfokuskan untuk menggarap basis non struktur dalam rangka pembesaran partai harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Tantangan paling berat adalah pragmatisme warga masyarakat yang telah sangat apatis terhadap kondisi politik. Menghadapi apatisme tersebut, pendidikan politik merupakan satu-satu cara yang dapat dipergunakan. Tema-tema pendidikan politik yang kita usung adalah: Pertama,Participatory Budgeting (Anggaran Partisipatif) - yakni sebuah model penganggaran yang berasal dari, oleh dan untuk warga. Model ini diambil dari success story penerapannya di negara-negara Amerika Latin terutama Porto Alegre sebuah negara bagian di Brasil. Apalagi secara nasional, pelaksanaan anggaran berbasis warga ini telah diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru menerapkan program ini untuk Program Dana Penguatan Kecamatan dan Kelurahan melalui mekanisme Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Tidak optimalnya pelaksanaan program ini mengakibatkan tema ini cepat direspon oleh warga masyarakat. Kedua, Kesehatan Gratis untuk Warga miskin, di tingkat Provinsi DKI Jakarta pemerintah telah melaksanakan program Jaringan Pengamanan Kesehatan untuk Keluarga Miskin (JPK-Gakin) serta pemberian Surat Keterangan Untuk Keluarga Tidak Mampu (SKTM) bagi warga yang tidak dapat digolongkan miskin, kepada mereka dibebankan kontribusi sebesar kesanggupannya. Program ini dilaksanakan dengan melakukan pendampingan bagi warga yang tidak mampu untuk berobat ke RS-RS yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Program lain yang dijalankan adalah Pendampingan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para pedagang yang membutuhkan bantuan modal usaha. Program lain adalah Kontrak Politik antara Caleg dengan warga berkaitan dengan kewajiban yang harus dilakukan oleh Caleg dalam memperjuangkan aspirasi warga.

Berbagai program tersebut menjadi tema kampanye yang menarik minat warga masyarakat. Sayangnya, dalam waktu yang sedikit program ini tidak memadai untuk merekrut banyak pemilih. KUR misalnya telah membantu 55 orang Pedagang, Pendampingan Kesehatan telah membantu 200 orang untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan, Kampanye Dana Penguatan telah mengakibatkan adanya lurah yang dimutasikan karena tidak melaksanakan program tersebut secara nyata.

Aku berpikir bahwa dalam konteks kampanye politik yang paling penting adalah adanya interaksi secara langsung antara caleg dengan konstituennya. Interaksi saja memang tidak cukup, interaksi yang terjadi harus menciptakan trust (kepercayaan) antara caleg dan konstituen. Memang dalam proses tersebut kita tidak menafikkan perlunya untuk mengeluarkan cost politic tertentu.

Entahlah apakah program kampanye tersebut efektif atau tidak? yang jelas di Jakarta Pusat pada masa "booming" Partai Demokrat kita berhasil mendapatkan 4 dari 10 kursi anggota DPRD untuk Jakarta Pusat, dengan 3 diantaranya merupakan kader internal DPC PD Jakarta pusat. (M. Firmansyah, Edward H. Napitupulu, dan Taufiqurrahman). Suatu perolehan kursi yang lebih tinggi dari target awal kita.

Konsolidasi Struktur

Konsolidasi struktur Partai memiliki permasalahan tersendiri, berbeda dengan saat menjadi tim sukses, di mana kita diharuskan berpihak kepada salah satu caleg tertentu. Saat terlibat dalam mesin partai seseorang diminta untuk bertindak netral jika tidak akan menimbulkan resistensi dari struktur yang telah terpecah-pecah pada kepentingan masing-masing caleg. Upaya mengkondisikan struktur kita mulai pertengahan Februari dengan menghidupkan Badan Pemenangan Pemilu (BAPPILU) yang selama ini vakum.

Upaya pengkondisian struktur di luar dugaan ternyata berjalan dengan baik, semua struktur dari tingkat anak cabang, ranting dan anak ranting sangat kooperatif dalam menjalankan kerja-kerja kepartaian untuk pemenangan Pemilu Legislatif, tidak jarang kita mesti memanggil mereka menghadap tengah malam atau subuh-subuh untuk menyempurnakan segala persiapan. Entah spirit seperti apa yang tiba-tiba melingkupi mereka, mengingat selama ini upaya pengkaderan secara ideologis memang masih kurang dilakukan. Aku menduga mungkin kecintaan mereka pada figur SBY.

Kecuali 'kegagalan' rapat umum tanggal 20 Maret 2009 yang disebabkan oleh ulah segelintir oknum di DPD PD Jakarta. Seluruh aktivitas pilleg yang dilakukan oleh struktur seperti: Penyiapan saksi di 1.880 TPS di Jakarta Pusat, pembekalan saksi, Pengawalan Perhitungan suara di tingkat kecamatan berjalan dengan baik. Perhitungan suara yang dapat kita selesaikan pada hari H+3 memiliki akurasi yang sangat tinggi dan hampir tidak ada perbedaan dengan hasil rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPUD Jakarta Pusat. Di samping itu, dari pengamatanku di lapangan, kader-kader PD dapat berbaur dengan baik dengan kader-kader partai lainnya sehingga dapat meredam berbagai resistensi yang terjadi. Inilah merupakan modal yang sangat baik dalam persiapan pilpres pada 8 Juli mendatang.

Kurang siapnya KPU dalam pelaksanaan Pemilu 2009

Selama proses ini, aku mengamati bahwa KPU memang belum siap dalam melaksanakan pemilu 2009 ini. Mungkin wajar karena dana yang tersedia memang sangat minim, sehingga sosialisasi cara memilih tidak dapat diselenggarakan secara maksimal. Hal ini menimbulkan berbagai masalah, misalnya di Kelurahan Gunung Sahari Selatan, petugas PPS tidak mengerti bahwa pemilih yang mencontreng partai dan caleg maka suara pemilih tsb akan dihitung untuk caleg yang bersangkutan. Petugas tersebut bersikeras bahwa suara pemilih tersebut akan menambah suara partai dan caleg, meskipun saksi kita telah mengingatkan bahwa tidak mungkin satu pemilih memiliki 2 hak suara. Keadaan inilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara jumlah pemilih sah dan suara yang masuk ke partai dan caleg seluruh Partai. Dalam proses perhitungan yang dilakukan oleh PPK juga ditemui berbagai kesalahan yang sifatnya 'human error'. Kasus yang sempat menuai protes dari Parpol lagi2 terjadi di Kemayoran. Kesalahan yang terjadi adalah adanya kesalahan PPK dalam memindahkan jumlah suara dari lembar sebelumnya sehingga menimbulkan penggelembungan suara untuk seluruh Partai, untunglah semua pihak kemudian dapat menerima. Aku membayangkan bahwa keadaan seperti ini pulalah yang menyebabkan maraknya protes di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Di samping itu, saat rekapitulasi suara aku sangat menyayangkan dilakukan secara terbuka penuh, semua orang diperkenankan masuk kedalam ruangan: Caleg, Tim Sukses, wartawan, LSM. Entahlah karena ingin mengesankan bahwa mereka demokratis, kondisi ini melahirkan hujan protes yang malah dilakukan tanpa argumentasi dan data yang jelas. Seharusnya, KPU hanya melibatkan saksi-saksi Partai Politik saja. Ke depan semoga KPU lebih dapat melakukan persiapan secara lebih detail. Jika tidak berbagai kekisruhan akan kembali terjadi.

Dec 3, 2005


Seandainya kita diberikan kebebasan sepenuhnya
Mampukan kebebasan itu melepaskan kita dari takdir
sebagai aktor lelucon semesta?

Jenuh

Pernah berpikir betapa ganjilnya kita diciptakan di dunia ini? Aku selalu memikirkannya, terkadang menganggapnya sebuah lelucon. Tak ada pengetahuan yang lengkap akan awal keberadaan kita dan tak juga ada pengetahuan akan akhir. Bahkan satu-satunya kelebihan 'kita' dibandingkan makhluk lain yakni rasionalitas, tak memiliki kemampuan untuk menemukannya.

Bagi sebagian orang agama adalah pelarian yang sangat nyaman, hal inilah yang coba dijelaskan oleh bounded-rationality theory. Dengan agama kita mengikuti lantunan irama semesta, rasakan misalnya lantunan suara adzan yang mengikuti perputaran bumi atau misa kudus di minggu pagi. Sungguh nyaman hidup dalam keharmonisan seperti itu. Bergerak, bernafas, dan menjalani berbagai hal menuju arah takdir yang dipercayai yakni kematian diri dan kehancuran semesta.

Dalam suasana batin seperti ini seseorang akan teramat kuat mengatasi hidup karena dia tidak memiliki keterikatan dengan segala hal yang fana. Ia menjadi tidak takut miskin, tidak takut lapar, tidak takut kejahatan, tidak takut melawan penindas bahkan tidak takut untuk meledakkan dirinya demi sebuah usaha yang mungkin juga dirasakannya absurd.

Berbicara tentang keterbatasan akal yang melatar belakangi keharmonisan hidup diatas, aku jadi berpikir bahwa apabila kita percaya bahwa kita adalah ciptaan maka kita tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan pencipta kita. Jika kita tidak mampu menjelaskannya lalu bagaimana mungkin di saat yang sama kita dapat mematuhinya (?).

Anggaplah kita merasa dekat dengan- Nya bukan melalui akal akan tetapi dalam pengalaman batin (fenomenologis), sebuah derajat keyakinan tertentu - sebuah dugaan perceptive, lalu bagaimana mungkin pengalaman batin individual kita tersebut menjadi alat yang menjadikan kita menerima sebuah ajaran agama tertentu yang bersifat umum seperti menjalankan ibadah agama dan sebagainya. Kenapa kita tidak menjadikan urusan agama ini menjadi urusan yang sangat rahasia, urusan antara kita dan tuhan sendiri tanpa ada penuntun apalagi perantara. Karena hal ini aku percaya kita bisa bebas dari agama. Bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrem karena kita bisa meragukan tuhan kita juga dapat meragukan perlunya segala hal yang baik.

Pertanyaan sekarang jadi sebuah pilihan filosofis: terjun bebas ke jurang yang mana?

Nov 9, 2005

Agaknya sang Jenderal mulai kehabisan energi juga kehilangan akal sehatnya. Keyakinannya terhadap liberalisasi pasar tentu bukanlah hal yang baik bagi kelangsungan kekuasaannya paling tidak dalam jangka pendek ini. Dana kompensasi pencabutan subsidi BBM melalui penerapan model bantuan tunai langsung (merupakan eksperimen pertama di dunia) tentu saja dapat menenangkan golongan terbawah rakyat Indonesia. Tapi ia lupa bahwa perubahan politik di Indonesia terutama diusung oleh kelas menengah. Bertahan atau tidaknya sebuah kekuasaan politik di Indonesia sangat ditentukan oleh sikap golongan ini terhadap sebuah kekuasaan.

Tentu saja masih tersisa sedikit keyakinan terhadap kepemimpinannya, akan tetapi sedikit demi sedikit seiring dengan penerapan agenda liberalisasi pasar diterapkan kepercayaan yang tertinggal akan semakin tergerus. Mungkin sang Jenderal menyadari hal ini maka sebagai seorang jenderal ia menerapkan keahlian utamanya dalam politik pertahanan, bukan untuk mempertahankan kedaulatan negara dan rakyat melainkan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kecenderungan ini sudah tampak nyata.

Oct 13, 2005

Aku sering merasakan semua benda disekelilingku hidup, bernafas, dan berbicara. Saat merasakan hal itu aku berada dalam keadaan antara sangat senang sekali dan kebingungan harus menempatkan diri. Kadang aku berada dalam suasana yang sangat serius, terlibat dalam berbagai hal detail dari dunia nyata.

Anehnya, dalam kedua situasi ini aku merasa senang. Kebahagian yang pertama disebabkan karena aku merasakan benar-benar hidup sebagai sebuah pribadi tersendiri, sementara kebahagian kedua disebabkan aku berhasil untuk melupakan tujuan hidup itu sendiri.