Dec 3, 2005


Seandainya kita diberikan kebebasan sepenuhnya
Mampukan kebebasan itu melepaskan kita dari takdir
sebagai aktor lelucon semesta?

Jenuh

Pernah berpikir betapa ganjilnya kita diciptakan di dunia ini? Aku selalu memikirkannya, terkadang menganggapnya sebuah lelucon. Tak ada pengetahuan yang lengkap akan awal keberadaan kita dan tak juga ada pengetahuan akan akhir. Bahkan satu-satunya kelebihan 'kita' dibandingkan makhluk lain yakni rasionalitas, tak memiliki kemampuan untuk menemukannya.

Bagi sebagian orang agama adalah pelarian yang sangat nyaman, hal inilah yang coba dijelaskan oleh bounded-rationality theory. Dengan agama kita mengikuti lantunan irama semesta, rasakan misalnya lantunan suara adzan yang mengikuti perputaran bumi atau misa kudus di minggu pagi. Sungguh nyaman hidup dalam keharmonisan seperti itu. Bergerak, bernafas, dan menjalani berbagai hal menuju arah takdir yang dipercayai yakni kematian diri dan kehancuran semesta.

Dalam suasana batin seperti ini seseorang akan teramat kuat mengatasi hidup karena dia tidak memiliki keterikatan dengan segala hal yang fana. Ia menjadi tidak takut miskin, tidak takut lapar, tidak takut kejahatan, tidak takut melawan penindas bahkan tidak takut untuk meledakkan dirinya demi sebuah usaha yang mungkin juga dirasakannya absurd.

Berbicara tentang keterbatasan akal yang melatar belakangi keharmonisan hidup diatas, aku jadi berpikir bahwa apabila kita percaya bahwa kita adalah ciptaan maka kita tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan pencipta kita. Jika kita tidak mampu menjelaskannya lalu bagaimana mungkin di saat yang sama kita dapat mematuhinya (?).

Anggaplah kita merasa dekat dengan- Nya bukan melalui akal akan tetapi dalam pengalaman batin (fenomenologis), sebuah derajat keyakinan tertentu - sebuah dugaan perceptive, lalu bagaimana mungkin pengalaman batin individual kita tersebut menjadi alat yang menjadikan kita menerima sebuah ajaran agama tertentu yang bersifat umum seperti menjalankan ibadah agama dan sebagainya. Kenapa kita tidak menjadikan urusan agama ini menjadi urusan yang sangat rahasia, urusan antara kita dan tuhan sendiri tanpa ada penuntun apalagi perantara. Karena hal ini aku percaya kita bisa bebas dari agama. Bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrem karena kita bisa meragukan tuhan kita juga dapat meragukan perlunya segala hal yang baik.

Pertanyaan sekarang jadi sebuah pilihan filosofis: terjun bebas ke jurang yang mana?

Nov 9, 2005

Agaknya sang Jenderal mulai kehabisan energi juga kehilangan akal sehatnya. Keyakinannya terhadap liberalisasi pasar tentu bukanlah hal yang baik bagi kelangsungan kekuasaannya paling tidak dalam jangka pendek ini. Dana kompensasi pencabutan subsidi BBM melalui penerapan model bantuan tunai langsung (merupakan eksperimen pertama di dunia) tentu saja dapat menenangkan golongan terbawah rakyat Indonesia. Tapi ia lupa bahwa perubahan politik di Indonesia terutama diusung oleh kelas menengah. Bertahan atau tidaknya sebuah kekuasaan politik di Indonesia sangat ditentukan oleh sikap golongan ini terhadap sebuah kekuasaan.

Tentu saja masih tersisa sedikit keyakinan terhadap kepemimpinannya, akan tetapi sedikit demi sedikit seiring dengan penerapan agenda liberalisasi pasar diterapkan kepercayaan yang tertinggal akan semakin tergerus. Mungkin sang Jenderal menyadari hal ini maka sebagai seorang jenderal ia menerapkan keahlian utamanya dalam politik pertahanan, bukan untuk mempertahankan kedaulatan negara dan rakyat melainkan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kecenderungan ini sudah tampak nyata.

Oct 13, 2005

Aku sering merasakan semua benda disekelilingku hidup, bernafas, dan berbicara. Saat merasakan hal itu aku berada dalam keadaan antara sangat senang sekali dan kebingungan harus menempatkan diri. Kadang aku berada dalam suasana yang sangat serius, terlibat dalam berbagai hal detail dari dunia nyata.

Anehnya, dalam kedua situasi ini aku merasa senang. Kebahagian yang pertama disebabkan karena aku merasakan benar-benar hidup sebagai sebuah pribadi tersendiri, sementara kebahagian kedua disebabkan aku berhasil untuk melupakan tujuan hidup itu sendiri.

Oct 4, 2005

Menjelang Ramadhan...

Ramadhan, setiap bulan itu datang aku selalu agak kesusahan. Jadi kesulitan nyari makan dan yang lebih parah lagi jadi berasa gak enak kalau merokok di keramaian. Kenapa orang harus selalu menghormati orang yang berpuasa? Kenapa tidak berlaku sebaliknya bahwa orang juga mesti menghormati keyakinan orang lain untuk tidak berpuasa?

Aku sudah mulai berpuasa dari kelas 4 SD dan terakhir sampai kelas 2 SMP, bahkan pada saat itu, bokap/nyokap kesulitan membujukku untuk membatalkan puasa. Aku rasa pada saat itu aku memiliki sebuah kepatuhan buta kepada sesuatu yang maha agung yang tak kuketahui. Berada dalam suasana religius itu terkadang menentramkan. Bahwa ada sesuatu entah dimana dia melihat engkau, ciptaannya. Perasaan seperti itulah yang membuat seseorang merasa tidak teralienasi dari kehidupan bahkan berdialog dengannya.

Tidak ada salahnya memang seseorang memilih ekspresi religiusitas seperti itu, maksudku melakukan semacam kepatuhan seperti itu jika dengan hal itu dia merasa tentram. Dan tidak salah juga, bila seseorang memilih ekspresi religiusitas dengan cara lain, seperti melakukan pembangkangan, misalnya dengan tidak berpuasa pada bulan ramadhan.

Banyak orang yang menganggap bahwa aku atheis dsb, dan anehnya aku selalu mengafirmasi apa yang mereka katakan. Aku merasa bahwa memang aku tidak beragama seperti mereka beragama, tidak mempercayai tuhan sebagaimana mereka mempercayainya.

Aku mempercayai tuhanku sendiri, di saat-saat sulit kadang aku masih sering berdialog dengannya mengenai keterbatasanku dan kekuasaan absolutnya. Belum cukup ada sebuah alasan yang baik bagiku untuk berpuasa, sebenarnya sesederhana itulah penjelasan dariku mengapa aku tidak berpuasa.

Tadi malam sehabis merayakan "malam penutupan" di Grand Manhattan kata beberapa teman aku muntah darah (aku sudah terlalu mabuk untuk dapat mengetahuinya sendiri). Sampai tadi aku masih memikirkan hal itu bahkan membicarakannya lama dengan supir taksi dalam perjalanan pulang, aku mulai berpikir untuk berhentik mengisap Gudang Garamku, mengurangi Alkohol, mengurangi keluar malam, mengurangi beer, mengurangi kopi, menjaga kesehatan.

Mungkin "your time is running out" seperti yang dikatakan seorang teman tadi malam merupakan sebuah alasan yang baik bagiku untuk mulai berpuasa. Tapi itu tergantung besok pagi jika aku ternyata bangun dan minum segelas air berarti selama sebulan penuh kedepan akan tidak akan berpuasa.

Sep 28, 2005

Dunia Berantakan...

Dunia Berantakan!!!

Dunia yang Berantakan! Itu yang kurasakan beberapa hari ini tentang keadaan dunia di sekelilingku. bagaimana tidak, Virus AI (H5N1) telah menyebar kemana-mana tapi anehnya pemerintah tidak mengambil tindakan yang berarti. Hanya mengeluarkan himbauan yang bersifat menenangkan dan bahkan sebenarnya bersifat menipu. Kita ditenangkan dengan menyatakan bahwa Virus AI akan sulit menular pada manusia, cukup dengan masak diatas suhu 100 derajat celcius dan sebagainya.

Padahal menurut beberapa pakar virus tersebut sangat cepat melakukan mutasi genetik sehingga sekarang telah mampu menembus barrier antar spesies. Misalnya: Kucing yang memakan ayam yang terjangkiti H5N1 akan dapat menjadi carrier bagi penyebaran virus di samping itu penuluran juga dapat dilakukan melalui udara. Seorang Peneliti dari Guan China yang pertama kali melakukan penelitian terhadap Virus ini sangat mengkhawatirkan terjadinya epidemic Global bahkan ia sangat yakin akan terjadinya hal ini.

Terhadap hal ini, aku sedikit kesal dengan pandangan para pedagang ayam melalui asosiasinya yang menolak pemerintah memasukan serangan wabah ini menjadi KLB karena mengkhawatirkannya dampaknya terhadap usaha mereka. Mungkin di kepala mereka hanya ada perhitungan untung rugi tanpa peduli keselamatan orang lain bahkan mungkin diri mereka sendiri dan keluarganya. Aku telah mulai Boikot makan ayam dan produk turunannya dan mulai kesulitan mencari makanan penggantinya :-(

Kejadian lain yang membuatku cemas adalah kenaikan BBM yang sangat Drastis, menurut beberapa sumber sebesar 75%. Persoalannya adalah karena subsidi untuk BBM tahun ini telah mendekati batas yang ditetapkan sehingga untuk beberapa bulan ke depan sudah tidak ada lagi subsidi bagi pembelian BBM. Kenapa kok anggaran dibuat dengan semudah itu? apa gak ada mekanisme lain sehingga rakyat tidak makin susah? apalagi program-program kompensasi yang sangat populis kelihatannya akan sulit mencapai sasaran. Misalnya subsidi pendidikan, jika diperhatikan dalam prakteknya tidak terlaksana. Penyebabnya adalah sistem birokrasi kita terlalu lamban untuk menutupi celah-celak praktek mencari keuntungan dari pihak sekolah dan guru-guru rakus. Misalnya setelah semua biaya BOS dan BOP (Jakarta) diberikan, ternyata masih ada peluang untuk melakukan pungutan dalam bentuk kegiatan les dan ekstrakurikuler.

Kemudian kebijakan untuk memberikan uang 100 ribu sebulan juga hampir pasti akan gagal karena pendataan untuk keluarga miskin belum selesai dan mengadung sangat banyak persoalan dalam penyalurannya. JPK Gakin dan PPMK (Jakarta) tidak berjalan karena persoalan pendataan keluarga miskin yang lemah sehingga akan sangat rawan terjadinya manipulasi data oleh pejabat yang berwenang dalam proses penyalurannya. Jadi hampir pasti kesejahteraan rakyat kecil akan kembali tergerus dengan kebijakan ini.

Tentang kenaikan BBM sebenarnya aku setuju dengan adanya mekanisme penyesuaian harga. Faisal Basri dalam sebuah diskusi juga sangat menganjurkan kenaikan harga BBM, menurutnya akan ada mekanisme adaptasi dari masyarakat. Akan tetapi, menurutku proses adaptasi ini baru dapat dilaksanakan dengan perlahan. Oleh karenanya, kenaikan BBM pun harusnya juga dilaksanakan secara bertahap serta dilakukan dengan penjadwalan yang jelas, misalnya kenaikan setiap 3 bulanan atau setiap bulan seperti pada masa pemerintahan Megawati. Dengan demikian, dunia usaha dan rakyat kecil dapat bernapas dan beradaptasi.

Kejadian menurunnya nilai tukar rupiah juga mengkhawatirkan, cobalah cek di situs BI kenapa kok laporan cadangan Devisa kita sejak bulan Juli tidak lagi diumumkan setiap bulan kepada publik seperti biasanya???

Hal ini membuktikan bahwa penyelenggaraan negara kita berantakan dan itu semua menjadikan dunia kita juga berantakan...

Sep 19, 2005

Refleksi dan mimpi

Ketakutan untuk menjadi Zombie? itulah yang membebani pikiranku sejak tadi pagi. Zombie dalam artian sesuatu yang bertindak dan berpikir bukan untuk dirinya sendiri. Secara praktis paling tidak dari jam 9 sampai jam 5 sore kita telah benar-benar kehilangan kontrol terhadap diri kita. dengan kata lain kita telah menjual diri kita. Tapi sebenarnya lebih dari jam-jam itu kita telah menjual seluruh hidup kita bukan?...

Jul 30, 2005

Pendidikan Dasar Gratis sebuah ilusikah?

Sebuah angin segar berhembus kepada rakyat yang tersandar letih seharian memikul begitu banyak beban hidup. Pemerintah telah mencanangkan program pendidikan gratis begitu yang terdengar? berarti tidak akan ada lagi biaya pendaftaran siswa baru (PSB), tidak ada lagi uang daftar ulang dan tidak ada lagi iuran bulanan yang terasa sangat memberatkan keluarga tidak mampu. Berarti tidak ada lagi yang mesti mereka pikirkan untuk pendidikan anaknya, paling tidak selama ia menjalani pendidikan dasar sembilan tahun semua biaya pendidikan telah ditanggung oleh negara.

Katanya, ada dana yang sangat besar sebesar 6,272 Triliun rupiah yang akan diberikan kepada seluruh SD dan SMP di Indonesia. Sungguh sebuah program yang sangat berani dan merakyat sekali, sangat menyentuh. Saking bersemangatnya mengajukan usulan ini, pemerintah dan panitia anggaran DPR RI ternyata lupa berhitung!

Jika di setiap SD biaya operasional per siswa adalah Rp.235.000,- dan untuk SMP sebesar Rp. 324.000,-maka marilah melakukan perkalian dan penjumlahan sederhana seperti yang diajarkan kepada kita di SD dulu. Menurut data dari Departemen Pendidikan Nasional, Murid SD pada tahun ajaran 2002/2003 berjumlah 25,9 juta dan siswa SMP berjumlah 7,4 juta, maka jika dikalkulasikan hasil penjumlahannya adalah sebagai berikut: (25.900.000 X 235.000) + (7.400.000 X 324 .000) = 6.086.500.000.000 + 2.397.600.000.000 = 8.484.100.000.000. Ternyata ada kekurangan 2,212 trilun.

Nah, inipun jika perhitungan biaya operasional pendidikan yang akan ditutupi melalui block grant mencakupi semua biaya untuk menyelenggarakan pendidikan. Akan tetapi, ternyata pemerintah kembali tidak memperhitungkan biaya real untuk menyelenggarakan sebuah pendidikan. Kesalahan ini mungkin bukan karena kealphaan. Akan tetapi, karena orang-orang pemerintahan kita belum dapat memahami konsep-konsep dalam akuntansi biaya yang lazim diajarkan di tingkat Universitas. Buktinya, biaya-biaya seperti Listrik, telepon, alat tulis, telepon, dan biaya untuk kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler tidak diperhitungkan. Sungguh bukan sebuah kealphaan tapi sebuah kekeliruan.

Berarti akan ada defisit anggaran bagi sekolah, berarti akan adanya usaha untuk mencari tambahan, solusi konvensional atau tidak kreatif yang biasa dipilih adalah menarik pungutan dari orang tua siswa dengan melibatkan Komite Sekolah yang selama ini begitu akur dengan pihak sekolah dalam menyerap dana dari orang tua siswa. Apakah janji pendidikan gratis ini kemudian hanyalah menjadi ilusi saja?

Tapi sebenarnya tidak. Persoalan ini seharusnya tidak usah dikhawatirkan, kebijakan pendidikan gratis masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan sebuah syarat: Pemerintah dalam semua tingkatannya mesti serius, peka dan flexible dalam membuat kebijakan yang berpihak pada orang kecil.

Tapi mungkin juga keinginan untuk memiliki birokrasi pemerintahan yang seperti inilah yang merupakan ilusi. Bagaimana tidak. Sampai dimulainya tahun ajaran baru 2005/2006 dimana program pendidikan gratis seharusnya sudah dimulai, Dana Block grant ini belum diturunkan. Alasannya JUKNIS mengenai Standar Pembiayaan Pendidikan baru dapat diselesaikan pada akhir Agustus 2005 ini. Akibatnya, pemerintah mengakui masih kesulitan untuk menghentikan pungutan yang dilakukan sekolah. Simplifikasi permasalahan oleh Mendiknas adalah ' jika pungutan dihentikan sementara anggaran untuk biaya operasional sekolah baru diturunkan akhir Agustus maka sekolah tidak bisa beroperasi, artinya akan banyak sekolah yang tutup '.

Rencana pemerintah untuk mengratiskan biaya pendidikan mulai tahun ajaran 2005/2006 ini praktis telah gagal. Kita telah mendengar banyak berita menyedihkan berkaitan dengan upaya orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, ada seorang ibu dari Petamburan yang menjadi joki 3 in 1 lalu tertangkap, ada banyak keluarga yang terbelit ' uang panas ' dengan bunga 30% per bulan. Mungkin masih banyak lagi cerita lain yang tidak terungkapkan Sungguh kegagalan yang sangat menyesakkan sebenarnya. Entah agenda ' politik minyak ' seperti apa yang akan diusung (?), bagi saya sendiri ini sebuah kebodohan dan ketidakberpihakan pada rakyat kecil. pemerintah terlihat tidak berusaha mencarikan solusi cepat untuk mengatasi masalah ini? Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah menutupi biaya operasional sekolah cuma untuk 2 bulan. Jika dihitung besarnya hanya sekitar 707 miliar rupiah saja.

Menurut saya solusinya tidak terlalu sulit. Misalnya, anggaran pendidikan dalam APBD disetiap daerah diprioritaskan untuk menalangi program yang secara prinsip telah disetujui DPR ini. Potensi dana ini cukup besar dengan telah adanya kebijakan untuk menetapkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD tiap daerah, di DKI Jakarta saja ada anggaran untuk program prioritas pendidikan sebesar Rp. 1.059.134.545.786,- dengan program prioritas yang nyaris sama yaitu pengembangan pendidikan dasar.

Ada beberapa pertimbangan dari hal ini. Pertama, untuk menghindari tumpang tindih program dan memungkinkan pemerintah daerah memformulasikan program lain yang bermanfaat dalam menutupi kekurangan program pendidikan gratis dari pemerintah pusat. Kedua, pengawasan dan block grant tahap pertama ini akan lebih efektif jika dilakukan oleh PEMDA. dan Ketiga, untuk menghindari inefisiensi dalam pengelolaan anggaran daerah (sampai dengan pertengahan tahun 2005 realisasi APBD DKI Jakarta baru 3%).

Tapi entahlah, pendidikan gratis dari pendanaan, menurut saya, sangat mungkin ada, sama sekali bukan ilusi. Malah sebuah birokrasi pemerintahan yang punya keseriusan, kepekaan, fleksiblitas, sedikit kecerdasan dan keberpihakan pada rakyat kecil inilah yang justru merupakan sebuah ilusi.

May 4, 2005

Ketakutan akan Relativisme?

Sungguh menarik membaca catatan pinggir Tempo 1 Mei, dalam kolumnya itu, GM menulis tentang ketakutan yang menyelimuti Vatikan setelah mangkatnya Sri Paus Yohanes Paulus II. Benecditus XVI,Paus yang baru, paling tidak mengirimkan sinyal ini dalam peringatannya: "Kita bergerak ke arah kediktatoran relativisme". Sebuah kecemasan akan tidak adanya suatu ukuran yang pasti yang menilai baik buruk sebuah perbuatan. Mungkin sebuah kecemasan bagi hilangnya legitimasi dari otoritas kebenaran, menurut cara pandang sinis.

Tapi marilah tidak bersifat sinis, relativisme paling tidak menerbitkan kecemasan juga pada hati yang bertanya. Bagaimanapun, hidup tanpa prinsip adalah peristiwa sehari-hari kita. Penyuapan dengan istilah dana taktis, uang damai saat ditilang, Mark up proyek, Make up laporan keuangan, bersenggama tanpa menikah, menyontek atau perbuatan apapun itu yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran prinsip yang kita terima. Kita jadi biasa meletakan segala penilaian dengan ukuran baik buruknya bagi diri kita sendiri. Toh, ini hidupku sendiri akulah yang punya otoritas satu-satunya untuk menentukan jalan hidup mana yang aku tempuh. Beginilah kita biasanya menjustifikasi segala perbuatan kita

Hidup jadi layaknya seperti sebuah jalanan panjang dengan banyak persimpangan. Tugas kita seringkali hanyalah memilih. Kemanapun arah yang akan tuju nanti kita tak tahu atau paling tidak tak mau tahu. Satu yang kita tahu adalah tak ada seorangpun yang tahu kemana jalan itu akan membawa kita. Tidak adanya pengetahuan akan tujuan akhir tidaklah dapat jadi alasan bagi kita untuk tidak melangkah bukan. "Hidup, ya jalani saja!" inilah nasehat yang paling sering kita dapat saat bercerita dengan seorang teman saat kita menghadapi problem moral yang sulit. Kita seperti orang gilanya Nietzche yang memberitakan kematian tuhan, dengan membawa obor, melangkah dalam kegelapan.

Tapi benarkah kita bisa sepenuhnya bebas? berpegang pada kebenaran kita sendiri? tentu saja ini sebuah pertanyaan filsafat lama yang kedengaran tolol. Toh prinsip umumkan terbangun dari akibat semakin tingginya intensitas interaksi sesama manusia sehingga manusia butuh adanya keadilan, kebebasan berusaha, kebebasan berpendapat dan sebagainya. Tentu dalam interaksi dengan sesama manusia lain dalam hubungan yang bersifat sosial, prinsip-prinsip umum haruslah ditegakkan. Bagiku pribadi tak ada relativisme hal untuk itu.

Akan tetapi, untuk hal yang bersifat personal dan pribadi katakanlah untuk kebebasan beragama, kebebasan bercinta, menuangkan gagasan pribadi dan segala hal yang kita tanggung akibatnya secara pribadi, aku beranggapan tidak ada prinsip umum yang harus dibangun untuk hal ini. Sebagai manusia pribadi kita relatif dengan segala keterbatasan kita. Hanya perlu meningkatkan pemahaman akan peran kita dalam dimensi sosialnya agar tahu apa yang benar apa yang tidak bagi sesama

Lalu apakah kecemasan tentang dominasi relativisme ini jadi beralasan?

May 3, 2005

Mayday...


Mayday tahun ini lewat begitu saja. Sebenarnya aku juga lupa. Diingatkan seorang kawan lewat SMS itupun sudah lewat tengah malam. Apa yang aku tahu tentang gerakan buruh sekarang? hampir tidak ada. Tak ada kontak dengan kawan-kawan buruh. Pernah memang mendengar ada pembentukan sebuah serikat di Bogor, sebuah format serikat buruh yang dulu sempat diancangkan bersama. Dimana bukan hanya buruh bergabung dalam satu pabrik tapi juga dalam satu kawasan industri tertentu. Tapi entah bagaimana perkembangannya. Sama sekali tak ada kabar.


Mungkin aku hanya dapat berkontemplasi tentang keadaan yang terjadi terutama di sektor industri garment (aku yakin belum berubah banyak), dimana aku pernah, paling tidak ada disana. Menjadi saksi sebuah perlawanan.


Seperti setiap zaman, seperti juga Pavel Vlassof dalam Novelnya Gorky, mungkin telah lahir beberapa buruh di daerah-daerah kantong industri yang sedikit punya keinginan melawan terhadap kesewenang-wenangan yang disadarinya dari para pengusaha. Ia mungkin akan berbicara dengan beberapa orang dekatnya, mengajak mereka melakukan sesuatu bagi perbaikan nasib bersama. Paling tidak pemenuhan hak-hak normatif mereka. Segala hak yang telah dijamin UU yang tak pernah mereka dapatkan. Seperti pemenuhan upah minimum, cuti haid dan jemputan bagi karyawan perempuan dsb.

Orang yang akan diajaknya berbicara akan dengan mengebu-gebu mengungkapkan kemarahan mereka, mengingat pengalaman mereka dari pabrik ke pabrik. Sebuah pengalaman dalam warna yang sama. Ketertindasan lama.


Akan tetapi, kemudian mereka akan terhenti karena tak tahu bagaimana harus melawan, bagaimana harus mengorganisir kekuatan dan mengumpulkan orang-orang. Ia akan berpikir adalah mustahil terjadi perbaikan nasib buruh. Kaumnya yang merana. Ingatannya akan melayang pada hasil dari setiap perjuangan yang diketahuinya. PHK, keluarga yang lalu kemudian menderita atau kembali ke desa entah sebagai apa? karena tanah keluarga sudah tak ada.


Barangkali ia seorang yang berani mengambil resiko. Makanya pada suatu siang ia akan menghadap atasannya dan mengajukan tuntutannya sendiri. Selanjutnya dihari-hari berikut ia akan dimutasi kebagian lain yang memang bukan keahliannya. melakukan beberapa kesalahan, gagal mencapai target produktifitas. Lusa kemudian personalia akan memanggilnya dan meminta pengunduran dirinya. seminggu kemudian ia akan meninggalkan pabrik.


Sekali lagi menjadi contoh bagi buruh lain bahwa sama sekali tidak ada kuasa dari para pekerja. Tidak ada daya. Itulah Gambaran sebuah perjuangan tanpa organisasi. Sebuah kesia-sian saja.

*


Barangkali ada sedikit kaum buruh yang beruntung, keakraban satu sama lain diantara mereka yang terbina lama telah membentuk sebuah solidaritas pribadi. Saat seorang kawan yang dikenal baik diperlakukan dengan sewena-wena mereka akan membelanya. Pada suatu pagi bersama-sama, mereka akan menghalangi jalan masuk ke pabrik, secara mendadak dan spontan memberikan resistensi terhadap pengusaha. Pengusaha memberikan ultimatum, esoknya beberapa buruh akan masuk lagi ke pabrik.


Sebagian kecil yang masih solider bertahan diluar pagar pabrik. Karena tak berdampak pada produksi, perusahaan mengacuhkan resistensi mereka. Mereka dibiarkan tanpa kejelasan, perusahaan menunggu sampai batas waktu mereka dinyatakan mangkir dan dikeluarkan tanpa pesangon.


Kasus diatas sebuah jenis resistensi yang sangat mudah dipatahkan, ada kasus lain dimana mereka telah membangun seperangkat panitia aksi yang akan solid (seringkali berupa ‘serikat buruh’) yang mengadakan pertemuan, membicarakan taktik perlawanan, memilih waktu yang tepat. Dalam banyak kasus saat perusahaan dibatasi oleh delivery time dari buyer, buruh yang bernegosasi akan dimenangkan. Sesaat situasi pabrik menjadi tempat yang harmonis dan sederajat. Serikat buruh terlibat dalam banyak kebijakan, kehidupan pabrik tersebut lebih baik dari pabrik yang lain yang ada disekitarnya.


Tapi ada semacam persoalan yang ditinggalkan dari keadaan seperti itu sebenarnya. pabrik tersebut jadi tidak kompetitif dimata para buyer yang memberikan orderan. Jika pabrik disebelah mampu mengerjakan dengan biaya yang lebih murah kenapa mesti memberikan pada pabrik dengan biaya tinggi? dalam beberapa bulan kemudian order jadi sepi dan perusahaan ditutup. Sebuah hasil perjuangan gemilang yang juga sia-sia. ternyata.

**


Kasus diatas hanya segelitir dari banyak jenis kasus yang terjadi, tapi paling tidak diperlukan sebuah perubahan paradigma yang diperlukan dalam perjuangan keserikat buruhan di dunia, atau paling tidak Indonesia. Perjuangan keserikatburuhan haruslah mampu melihat keterbatasan dari watak perjuangan tradeunionism. serikat buruh yang kuat saja tidaklah mencukupi.

Ada faktor lain yang penting yang harus diperhatikan yaitu faktor ekonomis dari produksi. Melihat kaum buruh sebagai sebuah komponen dari produksi yang vital, melihat diri sebagai sebuah angka bagi cost dan productivity yang dalam global economic adalah bersifat universal.

Implikasinya, buruh tidaklah dapat hanya mengidentikkan dirinya sebagai seorang buruh dari perusahaan X atau Y, yang hanya menimbulkan biaya dan meningkatkan produktifitas bagi PT X atau Y. Tapi melihat dirinya sebagai sebuah bagian dari komoditas dan barang yang berada dipasar, melihat bahwa dalam sebuah pasar persaingannya bebas dirinya adalah bagian dari produk yang saling bersaing tersebut. Karena sifat saling bersaing dalam pasar barang (demikian juga dalam pasar faktor produksi tenaga kerja) maka solidaritas mustahil dapat dibangun tanpa pemahaman yang benar akan watak dari sistem produksi kapitalisme. Tanpa pengetahuan tentang posisi mereka dalam sistem produksi ini.

Solidaritas buruh yang terbangun sama sekali bukan dengan parade-parade MAYDAY akan tetapi dalam pemahaman bersama posisi kelas dalam ekonomi dan praktek perjuangan kelas bersama sehari-hari. Mulailah dari satu kawasan menetapkan harga buruh dikawasan ini harus sekian, kesejahteraan minimal seperti ini harus terpenuhi.

Jika mengetahui bahwa ada kawan buruh dipabrik lain dibayar lebih murah maka harus dianggap sebagai ancaman bagi kesejahteraan bersama paling tidak di kawasan tersebut. Mulailah sama-sama solider, berjuang bukan untuk kepentingan yang muluk dan luhur akan tetapi untuk diri sendiri juga. Solidaritas kaum buruh terbangun bukan atas perasaan emosional semata tapi atas asas yang rasional terhadap pemahaman dari sistem produksi.