Hidup akan terus mengalir, aku menulis untuk mengingatkan dari mana aku memulai
Dec 3, 2005
Nov 9, 2005
Oct 13, 2005
Aku sering merasakan semua benda disekelilingku hidup, bernafas, dan berbicara. Saat merasakan hal itu aku berada dalam keadaan antara sangat senang sekali dan kebingungan harus menempatkan diri. Kadang aku berada dalam suasana yang sangat serius, terlibat dalam berbagai hal detail dari dunia nyata.
Anehnya, dalam kedua situasi ini aku merasa senang. Kebahagian yang pertama disebabkan karena aku merasakan benar-benar hidup sebagai sebuah pribadi tersendiri, sementara kebahagian kedua disebabkan aku berhasil untuk melupakan tujuan hidup itu sendiri.
Oct 4, 2005
Sep 28, 2005
Dunia Berantakan...
Padahal menurut beberapa pakar virus tersebut sangat cepat melakukan mutasi genetik sehingga sekarang telah mampu menembus barrier antar spesies. Misalnya: Kucing yang memakan ayam yang terjangkiti H5N1 akan dapat menjadi carrier bagi penyebaran virus di samping itu penuluran juga dapat dilakukan melalui udara. Seorang Peneliti dari Guan China yang pertama kali melakukan penelitian terhadap Virus ini sangat mengkhawatirkan terjadinya epidemic Global bahkan ia sangat yakin akan terjadinya hal ini.
Terhadap hal ini, aku sedikit kesal dengan pandangan para pedagang ayam melalui asosiasinya yang menolak pemerintah memasukan serangan wabah ini menjadi KLB karena mengkhawatirkannya dampaknya terhadap usaha mereka. Mungkin di kepala mereka hanya ada perhitungan untung rugi tanpa peduli keselamatan orang lain bahkan mungkin diri mereka sendiri dan keluarganya. Aku telah mulai Boikot makan ayam dan produk turunannya dan mulai kesulitan mencari makanan penggantinya :-(
Kejadian lain yang membuatku cemas adalah kenaikan BBM yang sangat Drastis, menurut beberapa sumber sebesar 75%. Persoalannya adalah karena subsidi untuk BBM tahun ini telah mendekati batas yang ditetapkan sehingga untuk beberapa bulan ke depan sudah tidak ada lagi subsidi bagi pembelian BBM. Kenapa kok anggaran dibuat dengan semudah itu? apa gak ada mekanisme lain sehingga rakyat tidak makin susah? apalagi program-program kompensasi yang sangat populis kelihatannya akan sulit mencapai sasaran. Misalnya subsidi pendidikan, jika diperhatikan dalam prakteknya tidak terlaksana. Penyebabnya adalah sistem birokrasi kita terlalu lamban untuk menutupi celah-celak praktek mencari keuntungan dari pihak sekolah dan guru-guru rakus. Misalnya setelah semua biaya BOS dan BOP (Jakarta) diberikan, ternyata masih ada peluang untuk melakukan pungutan dalam bentuk kegiatan les dan ekstrakurikuler.
Kemudian kebijakan untuk memberikan uang 100 ribu sebulan juga hampir pasti akan gagal karena pendataan untuk keluarga miskin belum selesai dan mengadung sangat banyak persoalan dalam penyalurannya. JPK Gakin dan PPMK (Jakarta) tidak berjalan karena persoalan pendataan keluarga miskin yang lemah sehingga akan sangat rawan terjadinya manipulasi data oleh pejabat yang berwenang dalam proses penyalurannya. Jadi hampir pasti kesejahteraan rakyat kecil akan kembali tergerus dengan kebijakan ini.
T
entang kenaikan BBM sebenarnya aku setuju dengan adanya mekanisme penyesuaian harga. Faisal Basri dalam sebuah diskusi juga sangat menganjurkan kenaikan harga BBM, menurutnya akan ada mekanisme adaptasi dari masyarakat. Akan tetapi, menurutku proses adaptasi ini baru dapat dilaksanakan dengan perlahan. Oleh karenanya, kenaikan BBM pun harusnya juga dilaksanakan secara bertahap serta dilakukan dengan penjadwalan yang jelas, misalnya kenaikan setiap 3 bulanan atau setiap bulan seperti pada masa pemerintahan Megawati. Dengan demikian, dunia usaha dan rakyat kecil dapat bernapas dan beradaptasi.Kejadian menurunnya nilai tukar rupiah juga mengkhawatirkan, cobalah cek di situs BI kenapa kok laporan cadangan Devisa kita sejak bulan Juli tidak lagi diumumkan setiap bulan kepada publik seperti biasanya???
Hal ini membuktikan bahwa penyelenggaraan negara kita berantakan dan itu semua menjadikan dunia kita juga berantakan...
Sep 19, 2005
Refleksi dan mimpi
Jul 30, 2005
Sebuah angin segar berhembus kepada rakyat yang tersandar letih seharian memikul begitu banyak beban hidup. Pemerintah telah mencanangkan program pendidikan gratis begitu yang terdengar? berarti tidak akan ada lagi biaya pendaftaran siswa baru (PSB), tidak ada lagi uang daftar ulang dan tidak ada lagi iuran bulanan yang terasa sangat memberatkan keluarga tidak mampu. Berarti tidak ada lagi yang mesti mereka pikirkan untuk pendidikan anaknya, paling tidak selama ia menjalani pendidikan dasar sembilan tahun semua biaya pendidikan telah ditanggung oleh negara.
Katanya, ada dana yang sangat besar sebesar 6,272 Triliun rupiah yang akan diberikan kepada seluruh SD dan SMP di Indonesia. Sungguh sebuah program yang sangat berani dan merakyat sekali, sangat menyentuh. Saking bersemangatnya mengajukan usulan ini, pemerintah dan panitia anggaran DPR RI ternyata lupa berhitung!
Jika di setiap SD biaya operasional per siswa adalah Rp.235.000,- dan untuk SMP sebesar Rp. 324.000,-maka marilah melakukan perkalian dan penjumlahan sederhana seperti yang diajarkan kepada kita di SD dulu. Menurut data dari Departemen Pendidikan Nasional, Murid SD pada tahun ajaran 2002/2003 berjumlah 25,9 juta dan siswa SMP berjumlah 7,4 juta, maka jika dikalkulasikan hasil penjumlahannya adalah sebagai berikut: (25.900.000 X 235.000) + (7.400.000 X 324 .000) = 6.086.500.000.000 + 2.397.600.000.000 = 8.484.100.000.000. Ternyata ada kekurangan 2,212 trilun.
Nah, inipun jika perhitungan biaya operasional pendidikan yang akan ditutupi melalui block grant mencakupi semua biaya untuk menyelenggarakan pendidikan. Akan tetapi, ternyata pemerintah kembali tidak memperhitungkan biaya real untuk menyelenggarakan sebuah pendidikan. Kesalahan ini mungkin bukan karena kealphaan. Akan tetapi, karena orang-orang pemerintahan kita belum dapat memahami konsep-konsep dalam akuntansi biaya yang lazim diajarkan di tingkat Universitas. Buktinya, biaya-biaya seperti Listrik, telepon, alat tulis, telepon, dan biaya untuk kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler tidak diperhitungkan. Sungguh bukan sebuah kealphaan tapi sebuah kekeliruan.
Berarti akan ada defisit anggaran bagi sekolah, berarti akan adanya usaha untuk mencari tambahan, solusi konvensional atau tidak kreatif yang biasa dipilih adalah menarik pungutan dari orang tua siswa dengan melibatkan Komite Sekolah yang selama ini begitu akur dengan pihak sekolah dalam menyerap dana dari orang tua siswa. Apakah janji pendidikan gratis ini kemudian hanyalah menjadi ilusi saja?
Tapi sebenarnya tidak. Persoalan ini seharusnya tidak usah dikhawatirkan, kebijakan pendidikan gratis masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Dengan sebuah syarat: Pemerintah dalam semua tingkatannya mesti serius, peka dan flexible dalam membuat kebijakan yang berpihak pada orang kecil.
Tapi mungkin juga keinginan untuk memiliki birokrasi pemerintahan yang seperti inilah yang merupakan ilusi. Bagaimana tidak. Sampai dimulainya tahun ajaran baru 2005/2006 dimana program pendidikan gratis seharusnya sudah dimulai, Dana Block grant ini belum diturunkan. Alasannya JUKNIS mengenai Standar Pembiayaan Pendidikan baru dapat diselesaikan pada akhir Agustus 2005 ini. Akibatnya, pemerintah mengakui masih kesulitan untuk menghentikan pungutan yang dilakukan sekolah. Simplifikasi permasalahan oleh Mendiknas adalah ' jika pungutan dihentikan sementara anggaran untuk biaya operasional sekolah baru diturunkan akhir Agustus maka sekolah tidak bisa beroperasi, artinya akan banyak sekolah yang tutup '.
Rencana pemerintah untuk mengratiskan biaya pendidikan mulai tahun ajaran 2005/2006 ini praktis telah gagal. Kita telah mendengar banyak berita menyedihkan berkaitan dengan upaya orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, ada seorang ibu dari Petamburan yang menjadi joki 3 in 1 lalu tertangkap, ada banyak keluarga yang terbelit ' uang panas ' dengan bunga 30% per bulan. Mungkin masih banyak lagi cerita lain yang tidak terungkapkan Sungguh kegagalan yang sangat menyesakkan sebenarnya. Entah agenda ' politik minyak ' seperti apa yang akan diusung (?), bagi saya sendiri ini sebuah kebodohan dan ketidakberpihakan pada rakyat kecil. pemerintah terlihat tidak berusaha mencarikan solusi cepat untuk mengatasi masalah ini? Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah menutupi biaya operasional sekolah cuma untuk 2 bulan. Jika dihitung besarnya hanya sekitar 707 miliar rupiah saja.
Menurut saya solusinya tidak terlalu sulit. Misalnya, anggaran pendidikan dalam APBD disetiap daerah diprioritaskan untuk menalangi program yang secara prinsip telah disetujui DPR ini. Potensi dana ini cukup besar dengan telah adanya kebijakan untuk menetapkan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD tiap daerah, di DKI Jakarta saja ada anggaran untuk program prioritas pendidikan sebesar Rp. 1.059.134.545.786,- dengan program prioritas yang nyaris sama yaitu pengembangan pendidikan dasar.
Ada beberapa pertimbangan dari hal ini. Pertama, untuk menghindari tumpang tindih program dan memungkinkan pemerintah daerah memformulasikan program lain yang bermanfaat dalam menutupi kekurangan program pendidikan gratis dari pemerintah pusat. Kedua, pengawasan dan block grant tahap pertama ini akan lebih efektif jika dilakukan oleh PEMDA. dan Ketiga, untuk menghindari inefisiensi dalam pengelolaan anggaran daerah (sampai dengan pertengahan tahun 2005 realisasi APBD DKI Jakarta baru 3%).
Tapi entahlah, pendidikan gratis dari pendanaan, menurut saya, sangat mungkin ada, sama sekali bukan ilusi. Malah sebuah birokrasi pemerintahan yang punya keseriusan, kepekaan, fleksiblitas, sedikit kecerdasan dan keberpihakan pada rakyat kecil inilah yang justru merupakan sebuah ilusi.
May 4, 2005
May 3, 2005
Mayday tahun ini lewat begitu saja. Sebenarnya aku juga lupa. Diingatkan seorang kawan lewat SMS itupun sudah lewat tengah malam. Apa yang aku tahu tentang gerakan buruh sekarang? hampir tidak ada. Tak ada kontak dengan kawan-kawan buruh. Pernah memang mendengar ada pembentukan sebuah serikat di Bogor, sebuah format serikat buruh yang dulu sempat diancangkan bersama. Dimana bukan hanya buruh bergabung dalam satu pabrik tapi juga dalam satu kawasan industri tertentu. Tapi entah bagaimana perkembangannya. Sama sekali tak ada kabar.
Mungkin aku hanya dapat berkontemplasi tentang keadaan yang terjadi terutama di sektor industri garment (aku yakin belum berubah banyak), dimana aku pernah, paling tidak ada disana. Menjadi saksi sebuah perlawanan.
Seperti setiap zaman, seperti juga Pavel Vlassof dalam Novelnya Gorky, mungkin telah lahir beberapa buruh di daerah-daerah kantong industri yang sedikit punya keinginan melawan terhadap kesewenang-wenangan yang disadarinya dari para pengusaha. Ia mungkin akan berbicara dengan beberapa orang dekatnya, mengajak mereka melakukan sesuatu bagi perbaikan nasib bersama. Paling tidak pemenuhan hak-hak normatif mereka. Segala hak yang telah dijamin UU yang tak pernah mereka dapatkan. Seperti pemenuhan upah minimum, cuti haid dan jemputan bagi karyawan perempuan dsb.
Akan tetapi, kemudian mereka akan terhenti karena tak tahu bagaimana harus melawan, bagaimana harus mengorganisir kekuatan dan mengumpulkan orang-orang. Ia akan berpikir adalah mustahil terjadi perbaikan nasib buruh. Kaumnya yang merana. Ingatannya akan melayang pada hasil dari setiap perjuangan yang diketahuinya. PHK, keluarga yang lalu kemudian menderita atau kembali ke desa entah sebagai apa? karena tanah keluarga sudah tak ada.
Barangkali ia seorang yang berani mengambil resiko. Makanya pada suatu siang ia akan menghadap atasannya dan mengajukan tuntutannya sendiri. Selanjutnya dihari-hari berikut ia akan dimutasi kebagian lain yang memang bukan keahliannya. melakukan beberapa kesalahan, gagal mencapai target produktifitas. Lusa kemudian personalia akan memanggilnya dan meminta pengunduran dirinya. seminggu kemudian ia akan meninggalkan pabrik.
Sekali lagi menjadi contoh bagi buruh lain bahwa sama sekali tidak ada kuasa dari para pekerja. Tidak ada daya. Itulah Gambaran sebuah perjuangan tanpa organisasi. Sebuah kesia-sian saja.
Barangkali ada sedikit kaum buruh yang beruntung, keakraban satu sama lain diantara mereka yang terbina lama telah membentuk sebuah solidaritas pribadi. Saat seorang kawan yang dikenal baik diperlakukan dengan sewena-wena mereka akan membelanya. Pada suatu pagi bersama-sama, mereka akan menghalangi jalan masuk ke pabrik, secara mendadak dan spontan memberikan resistensi terhadap pengusaha. Pengusaha memberikan ultimatum, esoknya beberapa buruh akan masuk lagi ke pabrik.
Sebagian kecil yang masih solider bertahan diluar pagar pabrik. Karena tak berdampak pada produksi, perusahaan mengacuhkan resistensi mereka. Mereka dibiarkan tanpa kejelasan, perusahaan menunggu sampai batas waktu mereka dinyatakan mangkir dan dikeluarkan tanpa pesangon.
Kasus diatas sebuah jenis resistensi yang sangat mudah dipatahkan, ada kasus lain dimana mereka telah membangun seperangkat panitia aksi yang akan solid (seringkali berupa ‘serikat buruh’) yang mengadakan pertemuan, membicarakan taktik perlawanan, memilih waktu yang tepat. Dalam banyak kasus saat perusahaan dibatasi oleh delivery time dari buyer, buruh yang bernegosasi akan dimenangkan. Sesaat situasi pabrik menjadi tempat yang harmonis dan sederajat. Serikat buruh terlibat dalam banyak kebijakan, kehidupan pabrik tersebut lebih baik dari pabrik yang lain yang ada disekitarnya.
Tapi ada semacam persoalan yang ditinggalkan dari keadaan seperti itu sebenarnya. pabrik tersebut jadi tidak kompetitif dimata para buyer yang memberikan orderan. Jika pabrik disebelah mampu mengerjakan dengan biaya yang lebih murah kenapa mesti memberikan pada pabrik dengan biaya tinggi? dalam beberapa bulan kemudian order jadi sepi dan perusahaan ditutup. Sebuah hasil perjuangan gemilang yang juga sia-sia. ternyata.
**
Kasus diatas hanya segelitir dari banyak jenis kasus yang terjadi, tapi paling tidak diperlukan sebuah perubahan paradigma yang diperlukan dalam perjuangan keserikat buruhan di dunia, atau paling tidak Indonesia. Perjuangan keserikatburuhan haruslah mampu melihat keterbatasan dari watak perjuangan tradeunionism. serikat buruh yang kuat saja tidaklah mencukupi.